HGO - The Official Guild

Silvia's Gaiden

 

Silvia’s Side Story

Under the tree, the boy, and the harmonica.


Hot Flames Bar, 3th February 2010, 11:30 a.m.

Setting: Chapter 3, Silvia’s Point Of View.

 

“Aku keluar dulu ya Sil, cari apel!” kata Argento sambil meninggalkan bar.

 Ampun deh…siapa nih yang bisa disuruh-suruh cuci piring? Eddie lagi pergi membelikan aku single terbaru Yui; Rolling Star lagi…aku kan kepengen banget punya, anime-nya dimana lagu itu jadi Opening Song juga bagus sih…

 …Yah, nggak apalah.

Mumpung hari ini juga bar lagi sepi. Dan, entah kenapa, hari ini aku seperti ingin bar ini sepi.

 

Aku sesaat melamun, melihat kursi dan meja yang tertata di bar.

Terutama meja bartender. Kelihatan tua sekali, tapi berkat bantuan Argento dan Eddie yang mau disuruh-suruh membersihkan bar, meja ini selalu terlihat seperti baru. Argento sendiri kaget lho, ketika kukatakan meja bartender ini sudah cukup tua. Penampilan luar memang bisa menipu kan?

 Lalu, aku lihat sekelilingku. Di dekat rak bir dan minuman lain, terdapat sebuah bingkai foto yang kusam. Kulihat sosok seseorang ayah dan anak sedang menggandeng kedua tangan anaknya. Itu adalah ayah dan ibuku…yang telah tiada. Satunya lagi, adalah aku sendiri tentu saja.

 …Entah kenapa, aku selalu ingin menangis melihat foto itu. Mengingatkan aku pada masa kecilku yang muram, ketika sewaktu kecil aku tinggal di sini, sebelum pindah ke sebuah panti asuhan diluar kota.  Satu-satunya kenangan indah yang aku dapatkan, mungkin adalah ketika foto itu dibuat. Dulu, aku sampai mengira, aku tidak akan pernah merasakan kasih mereka, karena pekerjaan mereka selalu bertempat jauh…tapi foto itu…itulah saat terindah dalam hidupku…juga saat yang terpahit. Beberapa hari setelah foto itu dibuat, ayahku dikirim ke Greenbush Town untuk dinas. Empat bulan kemudian, dia dinyatakan hilang dalam suatu ‘kecelakaan’. Ibuku bunuh diri tidak lama setelah itu.

 Jadinya, aku dibesarkan di panti asuhan. Di sana, aku tidak mendapat banyak teman,karena rambutku yang berwarna perak, turunan dari ibuku. Ya, perak. Setelah remaja,aku mewarnai rambutku.

 Sambil tenggelam dalam suasana nostalgia, aku berpikir kembali ke masa lalu…

 A distant village far west of the Old Audition City.

Sunlight Orphanage,

14 February 2000

Silvia ubanan! Silvia ubanan! Silvia nenek-nenek! Wee~~~”

Itulah kata-kata yang aku dengar setiap hari dari panti asuhan dimana aku dibesarkan. Aku selalu diejek ubanan, karena rambut asliku yang berwarna perak. Memang, aku dibesarkan dari ras lain, dan, mungkin karena pengaruh genetik ibuku, rambutku berwarna perak. 

Dalam satu kesempatan, aku bahkan mulai membenci ibuku, yang menurunkan unsur genetiknya kepadaku. Untung, pengurus panti asuhan ini sangat baik padaku, dan aku selalu mendapat perlindungan dari mereka. Sehingga kebencianku dapat kupendam dan hilang.

Suatu hari, setelah diejek lagi oleh teman-teman satu panti asuhan,aku beristirahat di sebuah bukit tak jauh dari panti asuhan. Aku selalu punya tempat istirahat yang khusus untukku. Sebuah pohon beringin yang amat besar, rindang, dan teduh, yang terletak di sebuah danau di satu sisi bukit. Pemandangannya sangat indah dan sejuk. Di sinilah aku bertemu dia, seseorang yang untuk pertama kali dalam hidupku, menyemangatiku untuk hidup dengan bangga, biarpun hanya sesaat. 

“Halo.” Seorang anak seumurku tiba-tiba menyapa dari belakangku yang sedang bersandar di pohon beringin tadi. Anak berambut coklat, pendek, bermata merah dan acak-acakan itu kulihat, mengenakan T-Shirt lusuh berwarna putih, dan celana ¾  berwarna hitam. Dia salah satu penghuni panti asuhan dimana aku diasuh. Biarpun yang lain mengejekku, dia tetap diam, sambil memainkan harmonikanya, dan mengawasiku dengan mata yang sangat datar.

Kamu juga mau mengejek rambutku?” Aku membalasnya dengan kasar. Maksudku, lihat apa yang mereka lakukan dan katakan terhadapku di panti asuhan. Jadi, wajar kalau aku tidak percaya kepadanya. 

”Aku kesini justru mau ngehibur kamu, Sil! Jujur ya, aku sama sekali nggak tahu kamu bisa nongkrong di sini.” Tukas anak tersebut.

Dia lalu duduk di sebelahku, dan memainkan sebuah lagu dari harmonikanya.

Lagu yang dilantunkannya, membuat hatiku sangat tentram, dan melupakan semuanya. Ejekan teman se-panti asuhan, kepergian ibu dan ayah…semuanya bagai disapu ombak.

 “…Maafkan kelakuan kasarku tadi ya. Sepertinya aku salah menilaimu,” hanya itu yang bisa kuucapkan. Sekilas, aku malu telah menyangkanya akan mengejekku seperti yang lain.

 Hehe…habis, aku cuma bisa main Harmonica sih…mereka nggak pernah tuh ngajak aku main bareng!”

 “Oh ya, kamu belum tahu namaku.”

“Finnegan,” katanya sambil menjulurkan tangannya kepadaku untuk bersalaman.

“Ah…iya.” Aku membalas tangannya.

Kami mengobrol selama 10 menit lamanya. Biarpun waktu yang ada sesingkat itu, kami benar-benar berbicara banyak. Mulai dari makanan kesukaan, hingga alasanku dibenci.

 “Heh? Cuma gara-gara rambut perak gitu aja? Aww, man, kejam amat ya mereka?”  Finnegan berkomentar terhadap yang kubicarakan.

 Aneh. Aku baru mengenalnya 10 menit, tapi aku sudah bisa berbicara banyak seperti ini.

 “Begitulah.”

“Aku rasa, aku memang tidak pantas untuk h---“

 “Aah, berisik, diam!” Finnegan memotong pembicaraanku dengan nada kasar. Sudah kuduga, ternyata aku memang tidak perlu berbic---

 “Gini Sil, harusnya kamu bangga lho punya rambut seperti gitu. Kok malah nyesel sih?”

 …Eh?

 “Gini ya, aku tanya. Berapa orang sih di seluruh dunia yang tingkat intelejensinya dari SD sudah setingkat SMA? Berapa orang sih yang punya IQ super tinggi di dunia? Berapa banyak sih, kota yang punya udara segar di jaman sekarang, dimana kendaraan bermotor dimana-mana menyebabkan polusi udara? Sedikit kan? Nah, sesuatu yang sedikit itu, justru yang dicari banyak orang. Misal, kalau ada anak yang pintar luar biasa di sebuah kelas, dia akan dimintai contekan, kan? Kalau ada fotomodel belajar di sebuah sekolah, dia akan diburu dan digemari kan? Kalau ada orang yang bermoral tinggi dia akan dicontoh yang lain kan? Kalau ada kota yang mempunyai udara yang benar-benar segar, orang-orang akan berwisata ke sana kan untuk melepas penat?”

 Finnegan berbicara panjang lebar. Aku hanya mendengarkan sebagian, karena aku sudah ngantuk selama disinari sinar matahari dan mendengan bunyi jangkrik di sekitar.

 “Itu sama seperti rambutmu. Jangan bilang kutukan; itu berkah! Pikir lagi baik-baik, mana ada sih di sekitarmu yang punya rambut seperti itu? Itu bagus kok, dan berkilau! Rambutmu itu langka, dan kecantikan seperti itu jarang bisa kamu temui di dunia ini. Menurutku ya, sesuatu yang sedikit itu, ada suatu keindahan. Ada moral yang bisa kita petik dari sana.”

 “Aku beri contoh lagi. Misalnya korban perang. Jangan melihat mereka sebagai korban perang, lihatlah mereka sebagai sekelompok orang yang berjuang dengan hebatnya, hanya untuk menjalani hidup yang singkat ini, dengan sepenuh hati.”

 Aku tertegun. Ternyata, dibalik penampilan acak-acakannya, dia betul-betul seseorang yang sangat bijak. Apa itu sebabnya aku bisa cepat akrab dengannya?

 “Jadi, apa rambutku ini, err…bagus?”

“Sangat bagus malah! Kalau bisa melihatnya terus menerus, nggak makan udah kenyang aku, hehehe…”

 ...Disaat itu, aku merasa senang. Sangat senang sekali, karena akhirnya aku mendapatkan seseorang yang bisa aku percaya.

Aku menjadi akrab dengannya setelah beberapa bulan bersamanya. Kami selalu bermain berdua di tempat yang sama, di pohon beringin itu. Kadang dia memainkan harmonika-nya dengan sangat merdu.

 Tapi, tampaknya, aku tidak akan menikmatinya lama.

Suatu hari, aku sedang membaca di perpustakaan panti asuhan, dan kabar itu datang dari seorang pengasuh.

 “Adopsi?”

“Iya, besok ada keluarga dari Audition City yang akan mengadopsi seseorang di sini. Berpakaianlah yang bagus, dan berkumpul di ruang tamu ya besok.”  Katanya sambil lalu.

 “Wah, kesempatan nih!” Finnegan tiba-tiba muncul dari balik salah satu rak buku, setelah pengasuh tadi pergi, membuatku terkejut.

 “Kalau kamu bisa diadopsi ‘kan, kamu bisa terhindar dari mereka. Ini kesempatan!”

“…Iya sih tapi---“

“Pokoknya, kamu harus bersiap besok. Ini akan menyenangkan!” katanya sambil berlalu.

 Finnegan benar. Tapi…
Aku ragu meninggalkan para pengasuh di sini, mereka sudah baik kepadaku…
…dan Finnegan juga.

 Keesokan paginya, seluruh anak penghuni panti asuhan berkumpul di ruang tamu sesuai yang dijanjikan.

 “Anak-anak, sebentar lagi calon orang tua angkat kalian dari Audition City telah datang. Berlakulah yang sopan ya!” kata seorang pengasuh.

 “Iya bu~~” semua anak di sana menjawab serentak.

 “Tapi, ngapain juga Silvi di sini? Dia sih nggak mungkin dipungut, rambutnya kan udah mirip nenek-nenek, hehehe…” seorang anak menghinaku.

 ……..

 “Cukup! Kamu, kembali ke kamarmu, SEKARANG! Kesempatanmu untuk diadopsi hangus!” kata sang pengasuh.

 “Tapi bu…”

“Tidak ada tapi-tapian! Kalau yang diadopsi anak macam kamu, itu lebih pantas dibilang dipungut, bukan diadopsi! Sekarang, kembali ke kamarmu!”

 Dengan menangis tersedu-sedu, anak itu pergi dari ruang tamu. Aku mendengar sekilas kalau dia mengatakan hal yang jelek tentangku…lagi.

 “Ibu Kepala! Para pengadopsi telah tiba!” tukas seorang tukang kebun panti asuhan.

 “Baiklah, anak-anak, tetap diam sementara ibu menyambutnya.”

“Hei, Sil, nervous ngga?” Finnegan berbisik denganku.

“Nggak juga, toh, mungkin yang kepilih bukan aku,” jawabku dengan agak pesimis.

“Ayolah, optimis sedikit! Kan---

 “Anak-anak, temuilah calon ayah dan ibu baru kalian, Mr. Rudolf dan Mrs. Catalina,” kata ibu pengasuh, memotong pembicaraan Finnegan.

 Dari pintu terlihat dua orang tua berpakaian rapi. Seorang bapak-bapak berambut kuning dan berjas lengkap, serta seorang ibu-bu berambut hitam berbaju hitam pula.

 Selama 10 menit, kedua orang itu melihati kami semua. Setelah beberapa menit, sang bapak-bapak berkata:

 “Kami pilih yang ini.”

 Kurasakan tanganku terangkat ke atas, oleh tangan yang besar dan hangat. Orang itu. Mereka memilihku.

 “HAAAA???????!!!!!!!!” aku bisa melihat ketidakpercayaan anak yang lain, tapi aku melihat Finnegan tersenyum lebar kearahku.

 “Diantara yang lain, aku melihatnya yang paling cantik. Matanya juga bagus. Setuju kan Catalina?”

“Ya, sayang. Matanya betul-betul bagus.”

 “Jadi anda memilih Silvia? Kami benar-benar bahagia, karena diantara anak-anak disini, hidupnya-lah yang paling hancur. Kami berharap anda berdua dapat membahagiakannya.”

 “Wah, jadi seperti istilah di olahraga menembak dong; right on the mark? Hahahahahaha~~~~~” Mr. Rudolph mengeluarkan suatu guyonan garing.

“Selamat ya, Sil,” kata Finnegan.

 Beberapa saat setelah kejadian itu, aku dan Finnegan berkumpul di tempat yang sama, di bawah pohon beringin.

 Ya…” aku menjawab dengan lemas.

Kok malah lesu? Kenapa?”

“…Finnegan. Aku memang tidak senang terhadap anak-anak lain yang terus menghinaku. Tapi aku bahagia mendapat teman sepertimu, dan pengasuh-pengasuh seperti di panti asuhan.”

 “Intinya…berat rasanya meninggalkan kalian semua…”

“Ah, Sil. Julurkan tanganmu sebentar.” Finnegan meraih tanganku dan menyelipkan sesuatu.

Heh?”

“There you go.”

 Kulihat tanganku. Dia memberikanku harmonikanya. Sebuah harmonika putih dengan ukiran biru bertuliskan Finnegan.

 Itu satu-satunya barang yang aku punya ketika panti asuhan menemukanku. Ambil sana.”

“Bukannya ini sangat berharga bagimu? Aku tidak bisa menerima sesuatu sepenting ini,” kataku, menolak.

 “Justru karena itu barang yang sangat pentinglah, aku memberikannya kepadamu. Dengan begitu, kamu kan jadi ingat kalau suatu saat kamu harus mengembalikannya kepadaku. Nah, karena hutangmu itu, kamu nantinya jadi mengingatku. Hehehe~~~”

“Dasar licik,” aku mengatakannya sambil tertawa.

 Kemudian, kami memandang matahari yang cerah bersama-sama.

 “Kita akan bertemu lagi kan?” kataku.

“Tentu.”

­­Itulah yang terjadi.

Ketika pengadopsiku datang, Finnegan melepasku dengan senyumnya. Yang membuatku sangat terkejut, anak-anak yang lain, yang selalu menghinaku, keluar serentak dan mengucapkan selamat tinggal dengan muka yang berseri-seri.

 Dan ketika mobil berjalan, aku mengeluarkan tangisan haru. Air mataku membasahi harmonika pemberiak Finnegan, sambil kuingat janji kami.

 Selama beberapa tahun sampai lulus SMA, aku hidup di Audition City dengan tentram. Sewaktu SMP, aku berkenalan dengan Eddie dan Erica, dan kami menjadi dengan baik. Lama-lama, aku sering jalan-jalan dengan Eddie, biarpun aku sudah lupa sebabnya kami akur. Erica sering risih melihat kami berdua, tapi yah…apa mau dikata. Aku ingat, ketika pertama kali masuk SMP, aku mewarnai rambutku coklat, karena aku takut akan diejek lagi. Tapi, begitu mengingat kata-kata Finnegan, aku merasa tenang.

 Ketika aku kelas 2 SMA, aku membaca koran, dimana ada suatu berita yang mengejutkanku.

 Sunlight Orphanage terbakar. Finnegan termasuk korban hilang.

 Ketika itu, aku menangis tersedu-sedu, dan menjatuhkan koran itu ke lantai. Aku membolos sekolah, dan lari ke Southside Port Sector, dan beristirahat di salah satu tempat pemberhentian kapal.

 Aku memandang laut disana, melamun, mengingat saat-saat bersamanya. Kupandang harmonika Finnegan. Aku memandangnya cukup lama, sampai aku mendengar pembicaraan salah seorang dancer.

 “Hei, dancer yang tadi hebat juga ya? Dia mengalahkan anggota NPC, Salsa sendirian lho!”

 “Iya, padahal dia kelihatan seperti anak SMA. Tapi…dia menyeramkan ya?”

“Menyeramkan? Oh, maksudmu penampilannya? Iya ya…rambutnya sih normal…tapi matanya itu lho, merah! Mirip setan!”

“Dia memang setan kan? Buktinya, mana ada dancer yang mau melawan Salsa sendirian, yang ada DEN akan terkuras!”

 Aku tertegun mendengar mereka. Mata merah…

Tidak salah, dia pasti Finnegan! Dan dia seorang dancer?

Setelah tamat SMA, aku memutuskan menjadi Dancer, dan meminjam uang dari orang tua angkatku untuk hidup mandiri dan mendirikan HotFlames Bar.

 Eddie dan Erica menjadi pelanggan tetap di Hot Flames Bar, juga termasuk Gustav dan Rack, teman SMA-ku.

 Oh, Eddie juga menjadi karyawan bar untuk membantuku…sayangnya, dia sering bolos cuma untuk ke warnet melihat beberapa anime.

Hot Flames Bar, 3th February 2010, 15:00 p.m.

 “Wow! Benar-benar DVD single Yui! Eddie, kamu benar-benar genius!”

“Apa kubilang Gen, kalau masalah gini, gua ahlinya, hehehe~~~” tukas Eddie dengan bangga memperlihatkan DVD Single Terbaru Yui, Rolling Star, terhadap Argento.

 Mana-mana, sini Silvi lihat!” Aku menjulurkan tanganku. Wow, ini original!

 “Ehh, Sil. Aku hari ini nggak ngambil tugas malam ya, aku mau simpan tenaga dulu,” kata Argento.

 Ada apa? Kok tumben, biasanya kamu rajin?”

“Gini, salah satu pelanggan kita tadi siang, ngajakin aku untuk suatu acara malam bernama Battle Party. Aku sih nggak tahu acaranya gimana, makanya aku mau coba ikut.”

 Pelanggan yang tadi siang? Ooh, pasti orang bernama Fuzz itu. )*

 “Boleh deh, sukses ya!”

 Yah, inilah hidupku sekarang. Setelah Erica, Eddie, Gustav, dan Rack, sekarang Argento. Asal tahu saja, aku benar-benar senang kedatangan Argento, karena rambut kami sama-sama perak.

 Untuk sementara, akan kujalani hidup ini.
Finnegan, tunggu aku disana.

 Lihatlah, aku tidak sendiri sekarang.

 

Silvia Gaiden, END.

Next Gaiden: Daisuke’s Gaiden.

(Gaiden sessions are planned to be created after every four chapter has been released)

 )*Baca Chapter 3.