Chapter 6:
A Small Talk For The Upcoming Storm.
“Halo.”
“Urghh…” suara itu membangunkanku dari tidurku…tunggu dulu.
Aku ada di kamarku bukan? Tapi ini...segera kusadari, aku terbangun di Chamber Of Existence. Hanya, kali ini aku terbangun di sebuah kursi yang empuk di depan sofa putih yang sama. Chamber Of Existence masih sama seperti waktu itu. Pemuda itu juga masih duduk di sofa yang sama. Hanya, sekarang ada kursi putih ini…beserta sebuah meja kecil di sebelah sofa putih. Di meja itu, terdapat vas putih dengan bunga anggrek putih.
“Terima kasih atas bunganya ya. Harum sekali. Kursi yang kau berikan itu juga bagus.”
“Hah? Apa maksudmu?”
“Ah, ya. Kamu masih belum mengerti. Anyway, apa mereka puas dengan apa yang mereka dapatkan kemarin? You know...tentang tempat latihan?” Tanya pemuda yang duduk di sofa putih itu.
Aku berpikir, bagaimana dia bisa tahu? Tapi, aku berikan saja jawaban yang bisa kupikirkan:
“Begitulah…biarpun salah seorang teman kami terluka…”
“Kau juga terluka
“Ngomong-ngomong, apa kau memanggilku ke sini?” tanyaku. Aku tentu saja heran, bangun-bangun sudah ada di sini.
“Ah ya, aku lupa. Aku hanya ingin memberitahukan keterkejutanku saja. Aku tidak mengira orang-orang di duniamu akan puas secepat ini. Padahal kau sendiri…ah, lupakanlah.”
“Apa maksudmu?” tanyaku.
“Ah, bukan apa-apa.”
“Ngomong-ngomong, siapa namamu? Tentu saja aku repot
“…Maaf. Tapi kau tidak boleh mengetahui namaku. Panggil saja aku Weiss. Dalam bahasa sebuah negara di barat, artinya adalah ‘putih’,” katanya.
“Heh…cocok dengan kamar ini
“Hahaha, kamu lumayan pintar bercanda,” katanya.
“Ah ya, sudahlah. Aku hanya ingin berbicara denganmu saja saat ini. Kembalilah ke duniamu. Terima kasih atas waktunya.”
Sama seperti waktu itu, setelah dia mengatakan kata tersebut, seluruh ruangan diselimuti cahaya terang. Pemuda itu, beserta seluruh perabotan di ruangan ini, hilang ditelan cahaya.
*---split it up, like a spear, I’ll burn the dread!*
“Ugh…” aku terbangun.
*No soul, robust, all dust, we bust, justice to the---*
*Ringtone Argento:
Lagu itu membangunkanku. Setelah aku melihat sekitar, aku sadar aku telah berada di kamarku yang kecil ini, dengan HP-ku yang berbunyi di meja di sebelah tempat tidurku. Ternyata bunyi ringtone, ada SMS masuk. Di handphone-ku, jam menunjukkan angka 8 pagi.
Langsung kubaca saja. Dan terlihat di situ,pengirim...nomor tak dikenal?Daripada penasaran, segera kubaca pesannya:
“Ternyata caraku belum membuatmu bangun ya. Benar kata beberapa temanmu, kau memang suka tidur. Bangun
-Weiss
Weiss?! Bagaimana dia tahu nomorku?! Dan bagaimana dia bisa mengirimkan pesan ini?! Tapi, itu tidak kupikirkan lagi, dan mulai mencari luka di kepalaku…kupegang dahiku, dan aku merasakan perban diikatkan ke kepalaku seperti bandanna. Oh ya…kemarin aku terluka parah…
Langsung saja aku mandi di kamar mandi yang pintunya terdapat di belakang tempat tidur. Setelah mandi dan berpakaian, aku memakai jaket coklat kesayanganku yang tergantung di lemariku, yang letaknya persis di sebelah sebuah meja di kamarku, lalu memakainya tanpa memasukkan ke lengan, seperti yang biasa aku lakukan setiap hari.
Aku turun ke bawah untuk minta makan ke Silvia seperti biasa.
…Hm?
*Berikutnya Silvia akan menyanyi, tapi akan dipotong dengan perkataan Argento untuk memberikan efek menghampiri:
“Nobody knows who I really am,
I never felt this empty before,”
Aku mendengar nyanyian…
“And if I ever need someone to come along,
who’s gonna comfort me, and keep me strong?”
Begitu aku mendengar suara itu, aku langsung pergi dan mencari asal suara.
“We are all rowing the boat of fate.
The winds keep on coming, and we can’t escape,”
Suara itu datang dari meja bar. Aku mengintip dari balik pintu menuju kamar staf yang berada di seberang meja dan melihat penyanyinya…
“But if we ever get lost on our way,
The waves would guide you through another day.”
Silvia. Aku tidak tahu dia bisa menyanyi. Dia sedang menyiapkan makanan sambil menyanyi, dan suaranya ternyata sangat indah…
Aku langsung menghampiri menghampiri meja bar dan bertepuk tangan kecil, masih terkesima.
“Wah, Silvia. Ternyata suaramu bagus ya, aku sama sekali tidak menyangka,” kataku dengan agak keras.
“Ah! Err…kamu sudah bangun ya?” katanya, agak terkejut.
“Hehe, aku baru bangun beberapa menit yang lalu kok,” kataku.
“Oh ya, bagaimana kepalamu? Apa sudah baikan?” tanyanya.
“Kalau sedikit istirahat, aku bisa sembuh dalam sekejap kok,” kataku. Tentu saja aku tidak bisa bilang ‘sakit sekali’
“Oh…bagus deh…tapi maaf ya…gara-gara aku membutuhkan tempat latihan untuk kompetisi Violet Spring of Love, kau dan Fuzz jadi terluka..aku tidak menyangka sama sekali akan seperti ini jadinya.” katanya, dengan sedikit menyesal.
“Ah, sudahlah, nggak usah dipikirkan. Lagian, aku juga sudah menyanggupi permintaan, ya
“Maaf ya…ngomong-ngomong, mau makan apa nih?”
“Oh, hmm…aku minta nasi goreng yang biasanya saja deh, minumnya kopi,” kataku.
“Mau apel? Hehe…” tanyanya.
“MANA, MANA, MANA?!” kataku dengan histeris.
Silvia lalu memberiku sebutir apel dari kulkas mini di sebelah rak minuman di depan meja bar dan memberikannya kepadaku. Aku langsung melahapnya dengan cepat.
*GREK*
“Hoaahhmmm…selamat pagi…” Eddie keluar dari pintu yang aku buka tadi.
“Oh, Eddie. Makan yang seperti biasa ya?” kata Silvia.
“Hoo, Fuzz masuk rumah sakit. Keadaannya sampai separah itu?” kataku sambil memakan nasi goreng di meja.
“Iya, tadi malam, begitu diangkut ambulan, dia langsung diangkut ke rumah sakit oleh petugas ambulan. Katanya, luka di kepalanya cukup parah, tetapi masih bisa diobati. Sekitar jam 7 tadi, Nicholai dan Erica mengirimkan SMS yang mengatakan Fuzz siuman,” kata Silvia.
“Kamu masih untung, gen. Kamu ditendang di perut dan di kepala beberapa kali, tapi nggak perlu diangkut ke rumah sakit. Padahal, seharusnya, lukamu lebih parah dari Fuzz.”
“Eh? Apa maksudnya?” tanyaku dengan heran.
“Aku nggak tahu kenapa, tapi setelah kami keluar dari rumah sakit, bekas memar di kepalamu hilang, dan pendarahan berkurang drastis. Sebelumnya kami panik lho, sampai kembali ke UKS sekolah tua itu untuk mencari perban. Untungnya, masih ada, sehingga kami sempat memberikan pengobatan darurat…nggak buat kamu sih, karena begitu kami kembali, lukamu hanya tinggal sedikit,” lanjut Eddie.
*I will, BURN MY DREAD!!!*
Handphone-ku berbunyi.
*There’s no man’s land, no man ever survived, invisible hands are behind you just now,
If you ever win that---“
“Dari siapa?” tanya Silvia selagi aku membuka SMS tersebut. Nomor tak dikenal. Mungkin Weiss?
Langsung saja aku lihat isi pesan itu:
“Itu perbuatanku. Kalau kau mati, aku dapat masalah. Aku tidak ingin menjadi kosong, dan aku tidak ingin musnah. Tidak usah kau tanyakan bagaimana caranya.”
-Weiss
Benar, dari Weiss. Jadi, dia yang menyembuhkan lukaku? Lain kali, aku harus berterima kasih padanya jika dia memanggilku.
“Cuma spam kok. Lagi banyak akhir-akhir ini,” kataku. Tentu saja aku tidak bisa menceritakan tentang Weiss dan Chamber of Existence, nanti aku dianggap paranoid.
“Oh ya, bagaimana kalau kita nanti menjenguk Fuzz? Kasihan dia sendiri,” tawar Silvia.
“Boleh juga, aku memang perlu melakukan sesuatu,” kataku.
Dalam perjalanan menuju Resting Branch Hospital dimana Fuzz dirawat yang berada di sisi barat dari Audition City, kami melewati Old Marketplace, sebuah distrik yang menjadi pusat perdagangan tradisional di Audition City. Nuansa ‘tua dan tradisional’ sudah terlihat dari penampilan orang yang berdagang sejauh mata memandang, dimana hampir semua pedagangnya adalah kaum tua berumur 40-50 tahunan, dengan pakaian yang unik. Beberapa anak muda lokal di sini sering menunjukan kebolehan mereka berdansa dan menyanyi rumba, samba, salsa, dan lain-lain di jalanan. Konon, di sini banyak sekali orang eksentrik, unik, dan menarik. Dan, katanya, buah-buahan yang dijual di sini jauh lebih enak daripada yang dijual di supermarket di distrik Traficco Geo, dimana aku biasanya membeli apel.
Selama perjalanan, Silvia menjelaskan bahwa di suatu sudut di Old Marketplace ini juga terdapat sebuah gedung kuno dengan Ballroom besar peninggalan sejak 400 tahun lalu. Biasanya, baik kawula muda ataupun kaum tua melakukan event Ballroom Dance di
“Wow, aku sama sekali tidak tahu ada tempat seperti ini di
“Sebelumnya, aku diberi SMS oleh Erica, katanya, Fuzz suka jeruk dan anggur dari distrik ini. Karena aku juga suka daging di tempat ini dan mumpung masih belum terlalu siang, apa salahnya ke sini?” kata Silvia.
“Hm? Apa maksudnya, ‘mumpung terlalu siang’?” kataku keheranan.
“Gen, katanya nih ya, jam setengah 10 siang semua dagangan kelas satu di sini terjual habis ludes. Aku pernah dengar toko roti ini, jam setengah 8 pagi dagangannya sudah habis total! Aku pernah kebetulan beruntung bisa membeli sebuah Roti Abon Sapi disini ketika aku lagi jogging, dan rasanya enak banget!” seru Eddie dengan semangat.
“Wow! Berarti kalau mau cari barang bagus di sini harus bangun pagi ya?” kataku sangat terkejut.
“Betul! Makanya dari tadi aku dan Eddie berlari kesana-kemari sendirian, keburu yang mau kami beli habis!” kata Silvia.
“Jadi itu sebabnya ya tadi aku kalian suruh belanja sendiri?” kataku.
“Lain kali, kalau bangun pagi langsung ke sini aja Gen, apa mau aku temenin ke toko roti tadi?” tawar Eddie.
“Boleh juga tuh! Kapan-kapan ya!” kataku mengiyakan dengan penuh semangat.
*Trivia:
Di
Setelah berjalan beberapa menit melewati perbatasan Old Marketplace, kami sampai di Resting Branch Hospital, sebuah rumah sakit 6 tingkat yang lebar bercat putih dan beraksen biru. Salah satu ciri khasnya adalah lampu neon besar yang membentuk tulisan
Begitu kami memasuki rumah sakit, tentu saja kami bertanya ke resepsionis di dekat pintu masuk dimana Fuzz.
“Permisi, ada pasien bernama Fuzz di sini? Nama lengkapnya Fuzzario Ciel.” kata Silvia.
“Ah, dia ada di lantai 3, kelas 2, kamar 307. Kalian siapanya ya?” kata resepsionis perempuan yang kelihatannya berumur 20 tahunan itu.
“Oh, kami teman satu kerjanya,” kataku.
“Baiklah, terima kasih. Sebelumnya, harap isi buku tamu berikut ini, untuk masing masing orang,” kata sang resepsionis sambil menyodorkan sebuah buku tamu.
Jadilah kami bertiga mengisi buku tamu yang disediakan. Silvia menulis pertama, lalu Eddie menulis kedua. Aku menulis terakhir, dan sambil menulis kulihat nama lengkap Silvia dan Eddie, sekedar penasaran…:
Guest No. 025: Silvia Eurydica.
Visiting: Room 307.
Day of Visit: 6th February 2010.
Guest No. 026: Janus Eduardo.
Visiting: Room 307.
Day of Visit: 6th February 2010.
Lalu kutulis nama lengkapku di bawah nama Eddie.
Guest No. 027: Argento Albertussi.
Visiting: Room 307.
Day of Visit: 6th February 2010.
Sebelum aku menyerahkan buku tamu kepada resepsionis, aku melihat beberapa nama di atas Silvia, dan menemukan nama yang menarik perhatian:
Guest No. 021: Tommy Sacramento.
Visiting: Room 307.
Day of Visit: 6th February 2010.
Hm?
*Trivia:
Selama kami menuju ruang 307, kami mendengar pembicaraan dari 2 orang suster muda yang kebetulan berjalan di belakang kami.
“Hei, kamu tahu rumor itu?”
“Rumor yang mana?”
“Itu, kamar 502!”
“Oh, maksudmu kamar yang katanya pernah didatangi alien itu?”
“Iya, yang itu! Beberapa hari ini, seorang supir truk yang dirawat di ruang itu mengaku melihat alien di ruang itu!”
“Hmm…katanya, sebelumnya juga pernah ada beberapa orang yang melihat alien tersebut di tempat lain lho. Yang satu, adalah bapak yang mencari anaknya yang hilang, yang satu, adalah seorang pengelana yang tersesat di
“Wah, korbannya banyak juga ya!”
“Aku harap tidak ada yang dirawat di
*Trivia:
Section ini sepenuhnya adalah referensi dari game Silent Hill. Supir truk adalah karakter utama Silent Hill Origins, sang bapak adalah karakter utama di Silent Hill 1, sang pengelana adalah referensi karakter utama Silent Hill 2, dan si wanita muda adalah karakter utama di Silent Hill 3.
Kenapa gw masukin UFO di referensi game horror yang serius? Hei, ini bukan kerjaan gw, tapi pengembangnya. Gw ga tahu ceritanya gimana, tapi pengembang game ini selalu memasukkan yang namanya UFO Ending hampir di seluruh serinya (kecuali Silent Hill 4). Maksudnya kamar 502, adalah lokasi dari UFO Ending di Silent Hill Origins.
Setelah beberapa lama mencari di lantai 3, kami berhasil menemukan Room 307. Kami ketuk pintunya, dan suara dari dalam mengundang kami masuk:
“Masuk,” itu adalah suara Fuzz.
Setelah kami buka pintunya, kami melihat seseorang yang umurnya kira-kira sedikit lebih tua dariku, berdiri di samping tempat tidur Fuzz sambil meminum sebuah jus jeruk kalengan. Orang itu memakai sebuah jaket dengan motif koran dan juga memakai baju ungu serta celana hijau kebiruan. Rambutnya diacak dan disisir tajam ke kanan.
Setelah itu, kami melihat sekilas ruangan ini. Untuk sebuah ruangan single kelas 2, ruangan ini sangat nyaman. Memang tidak terlalu besar, tapi nuansa putih terlihat di seluruh ruangan. Di sebelah tempat tidur Fuzz ada sebuah meja kecil yang digunakan untuk menyimpan peralatan darurat. Di seberang tempat tidur itu pula, ada sebuah TV yang diletakkan di atas sebuah buffet kecil. Di dekat situ ada sebuah sofa hitam yang kelihatannya nyaman. Terakhir, di sebelah sofa tadi, ada pintu berwarna biru muda yang menuju ke kamar mandi.
“Apa kabar Fuzz?” kata Silvia sambil meletakkan buah-buahan yang dibelinya di meja kecil di sebelah tempat tidur Fuzz.
“Aku sih mulai baikan. Sepertinya kamu juga sudah mulai sembuh?” tanya Fuzz yang matanya mengarah kepadaku.
“Aku masih agak pusing sih, jadi mungkin baru 2 hari kedepan aku bisa melakukan pekerjaanku sebagai dancer seperti biasa,” kataku dengan sedikit malas, karena kecapekan. Langsung saja aku bersandar di sofa yang ada, sambil menguap.
“Siapa orang-orang ini?
“Oh, mereka orang yang baru aku ceritakan tadi,” kata Fuzz.
“Eh? Kamu cerita tentang kami?” kata Eddie.
“
“Duh Fuzz, nggak usah repot deh…kami nggak punya DEN buat bay---“ perkataan Silvia terpotong oleh orang misterius itu.
“Ah, jangan kuatir. Untuk teman sejati, selalu gratis!” kata orang itu dengan semangat.
“Belajar yang baik ya, dia mengantongi Dancer ID dengan License Level 26 lho!” kata Fuzz.
“HAAAAAAAAAAAH?!?! SERIUS?!?!?!” Wow, kami diajar oleh orang seperti ini, pikirku. Kami pasti menang nih!
“Ah, nggak usah terlalu memuji. Kalau kerja keras pasti bisa kok,” kata orang misterius itu.
“Oh, aku lupa mengenalkan diri. Namaku Tommy
“HAAAAAAAAH?!?!?!” Lagi-lagi kami bertiga hanya bisa termangu. Ternyata dia kaya sekali!
“Maaf, di ruang pasien tidak boleh berisik,” kata seorang suster yang kebetulan lewat di depan ruangan.
“Oh ya, maaf…” aku, Silvia, dan Eddie meminta maaf bersamaan.
“Wah…aku masih tidak percaya cerita itu, tentang tape berhantu,” kata Tommy ketika kami menceritakan apa yang terjadi kemarin.
“Tapi itulah yang terjadi. Aku sendiri juga masih nggak percaya kalau tape recorder itu bisa mengendalikan manusia…” kataku.
“Sebenarnya, itu nggak bisa dibilang aneh sih, karena, dulu juga pernah ada kasus serupa di distrik Old Marketplace. Cuma, yang ini bukan disebabkan tape recorder, tapi disebabkan seorang pemain gitar misterius,” kata Tommy.
“Hah? Aku tidak pernah mendengar kasus seperti itu…” kata Fuzz.
“Karena begitu pemain gitar misterius itu dikalahkan di October District di sebelah utara, sudah mencapai tengah malam. Rumornya sih, seorang dancer dari masa depan dan seorang superhero legendaris yang mengalahkannya,” cerita Tommy panjang lebar.
“Hmm…misterius sekali…apa mungkin itu buatan manusia?” pikirku.
“Yang jelas…aku tidak akan bisa memaafkan alat yang membuat kesenangan yang dipaksa itu. Manusia seharusnya berdansa, bernyanyi, dan bergembira ketika mereka benar-benar bahagia. Tidak seharusnya ada alat seperti itu, yang memaksa manusia untuk ‘berbahagia’ ketika hati mereka tidak benar-benar bahagia, sampai bisa menyakiti orang lain agar ‘kebahagiaan’ mereka tidak terganggu.” kata Tommy panjang lebar.
“Betul! Aku yang lagi nggak mau berdansa aja, dipaksa dansa oleh tape recorder itu! Aku sampai melukai kepala Argento…” kata Eddie.
“Oh, ayolah Eddie. Yang seperti itu sih nggak apa-apa. Aku juga butuh istirahat, karena terlalu banyak yang terjadi beberapa hari ini,” kataku. Bukannya mau menghibur, tapi aku memang perlu banyak istirahat, karena terlalu banyak yang terjadi belakangan ini…
“Ah, istirahat yang banyak saja, karena begitu lukamu sembuh, kalian akan segera aku ajari, bagaimana berdansa yang baik,” kata Tommy.
“Berarti 2 hari lagi ya? Akan aku tunggu deh…” kataku.
Setelah beberapa saat berbincang dengan Tommy dan Fuzz, kami segera pergi meninggalkan rumah sakit dan langsung pulang.
Begitu sampai, ternyata hari sudah malam. Langsung saja aku menuju kamarku untuk tidur. Ketika aku bersiap untuk tidur, handphone-ku berbunyi. Lagi-lagi nomor tak dikenal. SMS dari Weiss, mungkin?
“Semakin lama semakin bagus ya? Dua hari lagi, begitu latihanmu selesai, cepat tidur. Aku ingin memanggilmu untuk membicarakan sesuatu. Tentang…perubahan besar di Chamber Of Existence. Gara-gara kamu, aku jadi tidak bisa tidur tenang di sini…tapi baguslah. Tidak usah kuatir, aku tidak terburu-buru kok.”
-Weiss.
Chapter 6: End.
Continued in Chapter 7:
Lazy, Hectic Day.
Upcoming Gaiden:
Daisuke's Gaiden:
The Green Carpet, Received Too Early.
Responsibility I Will Take, Personality I will keep.
End Section Trivia:
- Tentang kata Tommy, “seorang dancer masa depan dan seorang superhero legendaris”, gw sedikit mengubah cerita yang ada di story mode.
- Tommy, yang mempunyai nick HGO-GreenCat-, mempunyai sebuah warnet di kotanya, jadi yang diceritakan di sini nggak sepenuhnya fiksi. Dia nggak punya kedai kopi sih…
- Kalau sedikit bingung tentang kebudayaan Old Marketplace, cari di Google gambar-gambar
Useless Joke Chapter:
Dlrow Gib A, Klat Llams A
Leonidas: THIS! IS! SPARTAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Itoshiki Nozomu: ZETSUBOUSHITAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!
Hiruma Yoichi: YAAAAAAAAAAAA----HAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!
Argento: Hmm…
Eddie: Kenapa gen?
Argento: Ah nggak…aku kasihan sama yang nulis fanfic ini, ngebuat candaan yang nggak bermutu kayak gini. *Kraus* (makan apel).
Eddie: Dia lagi frustasi karena laptopnya hampir rusak, dan dia masih bisa menyelesaikan Chapter 6 tepat waktu…what an engine-ous move!
Argento: Chapter yang ini si Tom mulai dimasukin yah? What a cat-astrophe, semakin banyak kucing, semakin sakit dia…*Kraus*
Eddie: Ah ya, akhir-akhir ini
Argento & Eddie: …
Argento: Dia tidak beruntung ya, dikelilingi kucing.
Eddie: Well, I don’t know about that.
Karakter Utama Persona 3: ORPHEUS!!!
Luc: Feel the wrath of my True Wind Rune!!!
Son Goku: KAMEHAMEHAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!
Itoshiki Nozomu: ZETSUBOUSHITAAAAA!!!!!! I’M IN DESPAIR!!!!!!!!!THIS JOKE CHAPTER WHICH IS NOT WRITTEN SERIOUSLY HAS LEFT ME IN DESPAIR!!!!!
Gw: …Hei, kalian semua dari mana keluar?
*karena semuanya ngaco, gw sikat habis pake sikat gigi, sikat WC, Machine Gun, pisau lempar, pisau bedah, Spadona, Finish Move, Lord Of Vermillion, kamera Obscura, Plagas Remover, Laser Gun, Xenogears, bom nuklir, Metal Gear RAY, Metal Gear REX, dan Armageddon*
-END-
Chapter 7
Lazy, Hectic Day
Another lazy day…itulah yang berada di pikiranku ketika menghadapi hari ini. Entah kenapa, kalau melihat jadwalku hari ini, aku rasanya ingin tidur saja…mengingat, setelah latihan yang *akan* diberikan Tommy kepada kami semua, aku masih harus menjenguk Weiss, katanya ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan kepadaku. Tapi daripada aku komplain, mendingan aku bangun…jadi aku bangun, mandi dan berpakaian sebentar, lalu memakai jaket coklat kesayanganku beserta baju hitam yang aku beli di Old Marketplace kemarin dan berjalan ke bawah sepeti biasa.
Tidak seperti biasanya, ketika aku turun ke bawah untuk makan, ternyata Eddie sudah bangun duluan…dan masih memakai piyama hijau-nya. Malas banget sih orang ini…Tampak, Silvia (lain dari biasanya, hari ini dia berpakaian santai dengan blus biru muda berlengan panjang dan celana putih panjang) sedang menyiapkan makanan untuk Eddie (dan, jelas untukku,
“Sudah bangun, Argento?” tanya Silvia.
“Kalau belum bangun, aku nggak akan di sini
“Rajin amat sih…aku aja masih ngantuk kok---hooaahhmmmmm…” kata Eddie. Bener-bener…kapan orang ini bisa serius?
“Anyway, aku harap nggak ada yang lupa kalau nanti kita akan berlatih untuk mengikuti Violet Spring Of Love…kamu sendiri nanti ngapain, Argento?” tanya Silvia.
“Sebenarnya, aku disuruh Erica untuk mengikuti kontes itu bersamanya, jadi mungkin aku akan ikut kalian…kalau dia bisa hari ini,” kataku .
“Nanti saja ditelepon. Jangan kuatir, aku tahu dia orangnya seperti apa. Dia pasti tepat waktu. Tidak seperti seseorang di sini…” kata Silvia sambil melirik kearah Eddie...
“ZZZZZZZZZZZZZZZ…….” …yang tidur lagi di meja.
“Ya ampun orang ini…coba aku bisa se-carefree dia…” kataku.
“Hmm…hehehe…” tiba-tiba Silvia tertawa sendiri.
“
“Jangan berisik ya~~~fufufu, lumayan, ada kelinci percobaan gratis…” kata Silvia. Aku merasa tidak enak…
Kemudian, Silvia mengambil sebuah botol dari kulkas tembok kecil dibelakang meja bartender. Botol hijau besar yang mirip sampanye itu punya label “Secret Project”…apaan sih ini?
“Sst…jangan rame ya~~~” kata Silvia sambil menuangkan minuman itu ke sebuah gelas kecil. Berikutnya, dia meminumkan minuman berwarna hijau (juga) itu ke Eddie.
“BUAAAHHHH!!!” Tiba-tiba Eddie menyemburkan minuman itu kearahku. Wajar, dia tidur menghadap ke arahku sih…
“Apa ini?! Hei, ada seseorang yang mau membunuhku!” teriak Eddie keras-keras.
“Argento! Mana pembunuhnya?! Mana?! Dia tidak aka kumaaf---“ aku meletakkan jariku di mulutku, menyuruhnya diam. Setelah itu, aku menunjuk kearah Silvia…
“*glek*…Uh oh.” Tiba-tiba, dari wajah Eddie terlihat ketakutan yang luar biasa besar. Berikutnya, ada yang mau menebak Silvia (yang berwajah *sangat* marah) melakukan apa?
Tapi, sebelum itu, handphone-ku berbunyi…dan tidak didengan mereka. Sudah bisa kutebak, dari Weiss. Tapi, kali ini dia menelponku, tidak mengirimkan SMS seperti biasa.
“Argento, LARI!!!” Aku tidak paham maksudnya, tapi melihat Silvia…aku jadi paham maksudnya. Jadi aku cepat-cepat keluar dari Bar dengan jaket yang tidak terpasang di lengan.
“Hei Argento pengkhianat!!! Ayo dong, derita ditanggung bersama!!! Aaah, tolong akuuu!!!!” aku bisa mendengar suara Eddie dari dalam Bar setelah aku keluar dari gedung tersebut.
“THIS HAND OF MINE GLOWS WITH AN AWESOME POWER!!! ITS BURNING GRIPS TELLS ME TO DEFEAT YOU!!! TAKE THIS! MY LOVE, MY ANGER, AND ALL OF MY SORROW!!! SHINIIIIIIIIIIIIIIING FINGEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEERRRRRRRRRRR!!! GO!!! GOO!!! GOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!”*1
Berikutnya, yang aku dengar dari dalam bar adalah suara pukulan yang sangat besar, suara meriam(!), dan suara-suara aneh lainnya. Orang-orang di sekitarku yang melewati bar tersebut bertanya kepadaku:
“Hei, di dalam ada bom ya?! Untung kamu keluar tepat waktu!”
“…ini lebih parah dari bom, biarpun tidak separah kemarahan seseorang yang aku tahu.”
Berikutnya, aku menerima SMS dari Weiss. Kubaca, dan isinya:
“Beruntung aku tidak ada di situ…dan kau tidak perlu memberitahuku apa yang terjadi.”
Trivia:
*1: As you can see in the video, it’s a GUNDAM scene. Ini jadi candaan internet…
Seperti janji, kami berempat (Erica datang tepat waktu sesaat setelah aku mengungsi dari ‘bom’ di bar, dengan jaket kulit hitam khasnya) pergi ke Old Marketplace untuk mencari tempat yang disediakan Tommy. Untungnya, kami masih punya waktu banyak untuk melihat-lihat distrik itu beberapa saat, karena sesampainya kami di
“Kira-kira, apa yang dia suruh untuk kita lihat ya?” kataku.
“Mana kutahu…tapi baguslah. Dengan begini, aku bisa cari bekal makanan dulu untuk latihan,” kata Silvia.
“Eh, sst…” Erica berbicara kecil kearahku untuk menarik perhatianku.
“Sebenarnya Silly dan Ed sedang apa sih tadi?” tanya Erica.
“Silly dan Ed…ah ya, aku mengerti. Yang jelas, kamu sebaiknya nggak usah tahu deh…” kataku sambil memasang muka ketakutan. Sepertinya, Silvia mengerti maksudku dan berhenti berbicara kepadaku.
“Egh…Yhang phentingh, akhu inghin harhi inhi chepuat sheleshai bhiar akhu bisha tidhur…” kata Eddie yang sepertinya sudah tidak punya energi untuk bicara. Aku ingin tahu apa yang terjadi di
“Silly, memangnya kamu apakan dia sih?” SH**! Sekarang malah dia yang bertanya!
“Oh, fufufu~~~hal yang sama yang kita lakukan terhadap para cowok sewaktu SMA dulu lho, ingat? Fufufu~~~” jawab Silvia sambil mengembangkan senyuman licik.
“Sewaktu SMA? Oh, yang itu? Khuhuhuhuhu~~~~ya, aku ingat. Khuhuhuhu~~~” sekarang Erica yang tersenyum licik…ditambah dengan aura nggak enak yang muncul dari Silvia dan Erica.
“Fufufufufu~~~~”
“Khuhuhuhuhu~~~~”
“MWAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!” tiba-tiba, mereka berdua tertawa keras-keras seperti penjahat yang biasanya aku lihat di film-film…aku sih ingin menanyai Eddie apa yang terjadi, tapi aku dengan cepat mengurungkan niatku lebih dalam dari sebelumnya setelah merasakan aura yang sangat nggak enak ini…
“Ini kopi-nya ya,” kata pelayan kafe sambil menyerahkan kopi yang kami berempat beli.
“Apa kalian ke sini untuk menonton festival? Aku tahu kok, banyak yang datang ke distrik hari ini hanya untuk itu. Kami sampai kewalahan melayani pelanggan; kalian beruntung masih ada kursi kosong di outdoor café ini!” tanya pelayan wanita berambut pendek dan pirang itu.
“Festival? Ah, itu yang Tommy suruh untuk kita lihat ya? Sudah lama aku tidak merasakannya,” kata Eddie, yang sepertinya kembali mendapat kemampuan bicara normal.
“Bagus! Sekali-sekali aku perlu penyegaran; jadi Dancer itu capek!” kata Erica.
“Aduh, senangnya! Sewaktu aku masih SMA, aku selalu datang ke sini di hari ini untuk menontonnya! Kok aku bisa lupa sih kalau diadakannya hari ini?” kata Silvia dengan
“Err…ini festival apa sih? Kok sepertinya semua senang dan menunggu festival ini?”
“Aduh, kamu nggak tahu tentang festival ini?” tanya pelanggan tersebut.
“Nggak…aku jarang menikmati festival seperti ini…malah, bisa dikatakan aku baru tahu,” kataku.
“Wah, kamu termasuk rugi ya! Ini sudah diadakan mulai 4-5 tahun yang lalu lho!” kata pelayan tersebut.
“Iya gen! Di saat macam gini ini, seluruh dancer selebritis dari setiap distrik hadir di sini! Mulai dari anggota NPC, pemilik usaha, sampai anak kecil semuanya selalu hadir di sini!”
“Sebenarnya, ini festival apa sih?” tanyaku.
“Ini cuma parade biasa kok…yang nggak biasa, di parade ini selalu ada hadiah kejutan untuk seluruh penduduk
“Sepatu yang aku pake ini gen, Jet-Black Indiana V-0, adalah sebuah prototype sepatu edisi khusus yang cuma dibuat 50 unit! Lihat tekstur halusnya, luar biasa
“Jangan didengerin gen, dia emang maniak sepatu. Sejak dia mendapat sepatu itu dengan harga murah, dia menjadi apa yang mereka sebut sneakerhead. Kalau sudah berbicara sepatu, sneaker, atau apalah, dia baru bisa serius…” kata Silvia. Sementara itu, omongan Eddie masih kedengaran di latar belakang.
“—selain itu, sepatu ini juga dipakai oleh para dancer legendaris beberapa tahun lalu! Pernah ada kasus dimana sepatu ini—“ …sepertinya Eddie tidak akan berhenti ngomong.
“Skateboard yang aku dapatkan ini juga edisi khusus lho; ini replika dari skateboard yang dipakai Tony Eagle, salah satu skater yang menjadi public figure di
“Kenapa kamu tidak mencoba berkeliling sekitar
“Nggak deh, aku nggak tahu apa yang harus aku be---“ omonganku diinterupsi.
“Gen, kamu suka MP3 player dan Headset
“—edisi terbatas!!! Dimana ada toko elektronik terdekat?! DIMANA?!?!” Tentu saja aku tidak boleh melewati kesempatan ini setelah mendengar hal ini.
“Kamu bisa pergi ke sebelah timur dari café ini dan memasuki toko Electronic Brigade,” kata pelayan tadi.
“TERIMA KASIH!! AKU KESANA SEBENTAR!!!”
“Tunggu dulu,” pelayan itu menghentikanku, lalu menyerahkan HP berkamera-nya.
“Sebenarnya, aku ingin minta tolong. Di depan Electronic Brigade itu adalah jalur awal yang dilewati para mobil parade.
“Memotretnya? Jangan kuatir, searah
“Apa nggak apa-apa, nanti
“Jangan kuatir, dia sudah cukup tua untuk bisa merasakan sabar!” kataku.
“Oh ya, boleh berkenalan dengan kalian semua? Aku dari tadi tidak mengetahui nama kalian semua. Tidak sopan rasanya kalau aku meminta tolong kepada kalian tanpa mengetahui nama kalian,
“Aku Argento.”
“Aku Silvia.”
“Aku Erica.”
“Dan orang paling ganteng di rombongan ini, namaku Eddie!”
“Senang bertemu dengan kalian semua. Argento, aku minta tolong kepadamu ya.”
Singkat kata, aku langsung pergi ke Electronic Brigade. Di dalamnya, aku melihat banyak sekali pelanggan berdesak-desakan merebut barang ini dan barang itu. Toko kecil yang temboknya didekorasi berbagai poster-poster promosi dari barang-barang yang ada itu, rasanya sudah tidak cukup menampung seluruh pelanggan yang ada. Aku langsung pergi ke counter dan menanyakan apa barang yang aku cari ada, sambil tergencet oleh orang lain yang memenuhi meja kasir. Ternyata ada! Harganya juga benar-benar miring, hanya 30.000 DEN. Yang aku tahu, harganya di pasar gelap bisa mencapai 98.000 DEN, dan harga normalnya 70.000 DEN. Ini jelas penawaran yang bagus! Langsung saja aku ambil barang yang ada, dan cepat-cepat membayarnya. Setelah membayar, aku cepat-cepat keluar dari toko, dan berteriak kemenangan.
“YEEEEEEEEEEEEHHHHHHHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!”
Orang-orang yang berjalan di sekitar toko melihatku, tapi sepertinya mereka tidak begitu kaget, karena beberapa orang lain di toko sekitar melakukan hal yang sama denganku. Setelah puas berteriak, aku langsung pergi ke pinggir trotoar untuk mencari mobil parade dari Cielo Beverage Company. Ternyata, mereka sudah dekat! Memang, karyawan yang seluruhnya berbaju hitam seperti Men-In-Black yang beratraksi di atas mobil parade itu terlihat tampan…tapi karyawatinya itu lho, yang memakai
Setelah kupastikan bahwa foto yang aku dapat bagus, aku bersiap kembali. Itu sebelum aku melihat bahwa ada sosok familiar di pinggir jalan. Orang berjanggut tipis dan berambut hitam itu memakai sebuah jas hitam yang dipakai seperti gayaku memakai jaketku sewaktu bangun tidur; tidak memasukka lengan. Asap dari rokok yang dihisapnya sedikit menutupi mukanya, tapi aku kenal dengan orang itu. Tommy! Langsung aku hampiri dia, dan memanggilnya dari dekat.
“Hei, Tommy! kataku memanggilnya. Tapi dia tidak menjawab. Aku bisa melihat tatapan matanya yang kosong ke jalanan. Dari mulutnya aku mendengar sesuatu dengan samar-samar.
“Rosemary…” dia membisikkan sesuatu. Rosemary? Seperti nama wanita. Apa dia menunggu kekasihnya? Karena dia tidak kunjung mendengar, aku menepuk bahunya dan memanggilnya sekali lagi.
“Tommy? Haloooo~~~?”
“…Hm? Ah, Argento rupanya.
“Apa maksudmu ada apa! Kami ini mencarimu karena kau berjanji akan melatih kami untuk kompetisi tersebut hari ini!”
“Ah ya…maaf aku lupa. Aku terlalu menikmati festival ini,” kata Tommy sambil menghisap rokoknya lagi.
Sesaat kami terdiam, lalu Tommy berkata.
“Hei, Argento.”
“Hm?”
“Ketika kau melihat karnaval ini…apa yang ada di benakmu?”
“Hah, apa maksudmu?”
“Lihatlah orang-orang di sekitar sini. Hanya dengan mobil-mobil besar yang dihiasi dengan berbagai ornamen aneh, ditambah orang-orang yang berdandan khusus dan menyapa mereka, banyak senyum mengembang dari masyarakat sekitar sini.” Kata Tommy sambil menghisap rokoknya…lagi.
“Ya, aku bisa melihatnya. Lalu kenapa?”
“Maksudku…apa kebahagiaan mereka ini kebahagiaan yang sebenarnya? Kalau iya, kenapa aku tidak pernah tersenyum sedikitpun ketika melihat karnaval ini? Apa ada sesuatu yang aku lewatkan?”
“Err…mungkin kamu sedang bad mood. Memang susah sih bersenang-senang kalau nggak ada mood yang cocok. Apa ada masalah?”
“…tidak ada. Aku…hanya heran.”
“…err, anyway, bukannya harusnya kamu melatih kami? Yang lain menunggu di café di dekat sini.”
“Baiklah. Show me the way,” kata dia sambil membuang puntung rokoknya.
Teretet—teretetetetetetetet—tetete~~~~~~~~~~~~t~~~~
God or Demon? What to am I ?
It's time for me to choose my path,
Power up my God Hand, No evil do-er will get by
Hand to Hand or Fist to Fist,
Kicking nuts to twist your wrist
Gotta have power to keep my pimp hand strong
So trust me or you won't last very long
Dragon Kick your ass into the Milky Way (Milky Way!)
Don't act like you don't like the Ball Buster (Ball Buster!)
My arm, My arm, My arm, My arm I'm summoning the power of the God Hand!
Lost a limb in a fight but don't worry babe I'll be cool
The ultimate power of a god is now my secret tool
My defenses are impregnable
My style is impetous
If it's too much to grovel at your feet
I'll beg for mercy when i feel the heat
Jaw-dropping attacks from my roulette wheel
Apocaplytic beat-downs from the God Hand
My arm, My arm, My arm, My arm I'm summoning the power of the God Hand!!
Everybody wants a piece who's next don't be a fool
Hyper active fighting style so slick they'll make you drool
God Hand helps me work out my stress, It's overpowering I must confess
The only person who it doesn't work on is the girl who got me into this Olivia
Slicing through thugs with my Shockwave (Shockwave)
More beheading than a guillotine...Head Slicer (Head Slicer)
My arm, My arm, My arm, My arm I'm summoning the power of the God Hand!!!
“…apaan ini?” kata Tommy terheran melihat café dimana Silvia, Eddie, dan Erica berkumpul.
“…Tommy, kamu mau pura-pura nggak kenal mereka?” kataku sambil menunjuk ke Silvia, Eddie, Erica, dan Nana…yang sedang melakukan jogetan aneh mengikuti musik yang sama anehnya ini.
“…boleh. Argento, kamu kenal mereka?”
“Nggak.”
“Baguslah.”
“Ah, maaf, maaf. Lagunya kedengaran asyik sih, jadi yah…mau gimana lagi, ya aku ikut aja berjoget!” kata Eddie, yang senyumnya sekarang lebih lebar daripada cakram.
“Jangan buang stamina, bukannya kalian mau latihan?” kata Tommy.
“Habis, kau lama sih. Makanya dari itu, kenapa nggak melepas kebosanan dulu?” kata Erica.
“Oh ya! Gen, MP3-nya dapat?”
Tanpa berkata apa-apa, aku langsung menyengir dan menunjukkan MP3 Player Limited Edition yang aku beli (sudah gitu, ini prototype yang jarang ada di pasaran!).
“Wow!! Ternyata benar-benar ada!! Aku bisa pinjam sebentar Gen?” kata Eddie, terkesima.
“Kan belum aku isi MP3, setelah latihan aja kita ke Internet Café bareng, untuk mengisi MP3,” kataku.
“Ah iya ya…nanti aja dah…”
“Ah! Aku hampir lupa! Mana handphone-ku, Argento?” kata Nana yang dari tadi ikut nongkrong bersama kami.
“Oh ya, hampir lupa. Ini,” kataku sambil menyerahkan handphone-nya.
Langsung saja dia mengambilnya, dan sepertinya menuju galeri foto.
“KYAAAAAAAAAAAAAAA!!! Ganteng-ganteng semua!!! Makasih, Argento!!” katanya dengan sangat riang.
“Anyway, sebentar lagi jalur Old Marketplace akan selesai dilewati karnaval. Ayo, siap-siap ke Dome Of Pride, ballroom dimana kita akan latihan,” kata Tommy sambil menghisap punting rokoknya, yang entah sudah yang ke-berapa.
“Iya, keburu sore…” kata Silvia.
“Aduh, kalian mau secepat ini pergi? Ayolah, temani aku sebentar, mumpung lagi sepi pelanggan dan aku tidak punya teman bicara,” kata Nana, agak manja.
“Maaf, kami tidak punya waktu lagi. Atau, bagaimana kalau kami kapan-kapan ke sini? Kopi-nya enak, dan tempatnya juga nyaman, kita pasti akan kerasan,” kataku.
“Hmm…baiklah. Oya, mau saling tukar nomor handphone? Untuk komunikasi, karena sepertinya aku bisa akrab dengan kalian, hihi…” kata Nana.
Kami tidak mungkin menolaknya, jadi aku, Eddie, Erica, dan Silvia memberikan nomor handphone kami. Tommy sepertinya tidak berminat…
Setelah kami melanjutkan percakapan sebentar, beberapa saat kemudian jalanan mulai sepi. Kami memanfaatkan kesempatan ini untuk pergi ke tempat latihan, sambil pamit kepada Nana.
Dome Of Pride, Old Marketplace.
10:58 a.m.
Setelah berjalan cukup jauh, kami sampai ke tempat latihan kami, Dome Of Pride; sebuah gedung besar dengan 5 Ballroom. Masing – masing Ballroom mempunyai sebuah bagian bernama Backstage; tempat untuk berganti pakaian, memasak makanan kecil atau minuman, atau tempat untuk hanya sekedar beristirahat. Banyak gedung Ballroom lain di Audition City, dan biarpun tempat ini bukan yang terbesar, tapi ini adalah tempat paling bersejarah di Audition City; ini adalah tanda kesejahteraan warga Old Marketplace. Tempat ini disewakan untuk mendapatkan pemasukan distrik, yang disalurkan untuk rakyat-rakyat di Old Marketplace. Tetapi, karena prestise-nya (dan harganya), hanya sedikit pihak yang mampu menyewanya, itupun pasti sebuah perusahaan. Saat ini, ada 3 perusahaan yang menempati 4 Ballroom sewaan; Stray Cat Enterprise (perusahaan milik Tommy), Cielo Beverage Company, dan Shining World Social Organization…itulah penjelasan dari Tommy.
“Mengerti?” kata Tommy.
“Aku sih mengerti…tapi, megah juga ya tempat ini,” kataku, sambil melihat mural yang berada di langit-langit.
“Yah, yang kamu lihat, kamu injak, dan kamu rasakan ini, sebenarnya sudah berumun 80 tahun lebih lho,” kata Tommy.
“Yang benar?! Kelihatannya masih kokoh!” kata Eddie dengan terkejut.
“Pasti habis direnovasi,” kata Erica. Benar juga ya.
Dari ujung lorong, di dekat pintu yang menuju Grand Hall (terlihat dari papan di atas) aku melihat seseorang yang sepertinya aku kenal…rambutnya acak-acakan berwarna ungu…menggunakan jaket hoodie berwarna hitam…hei, tunggu! Itu Daisuke! Aku mencoba menyapanya.
“Hei!!!”
“Eh, Argento? Lama nggak ketemu ya?” kata Daisuke dengan gembira.
“Lho, kamu kan yang dulu itu di Coconut Island?” tanya Eddie.
“Iya, yang di Chapter 2 itu! Masih ingat apa nggak?” jawab Daisuke.
“Kami sih masih ingat, nggak tahu apa yang ngebaca fanfic ini ingat apa nggak…” kataku.
“Begitu ya…aku memang jarang muncul sih?”
“Hei, siapa orang ini?” tanya Silvia. Langsung saja aku menceritakan yang ada.
“Oh, begitu. Terima kasih ya, sudah membuat si pemalas ini mau kerja,fufufu~~~” kata Silvia.
“Kamu ngapain di sini?” tanyaku.
“Oh, aku ada urusan dengan salah satu ballroom di sini,” katanya.
“Kalian sendiri?”
“Oh, Tommy ini akan melatih kami untuk mengikuti Couple Event,”
“Begitu? Semoga sukses ya! Aku masih ada urusan, jadi aku harus pergi, see ya,” kata Daisuke sambil meninggalkan kami.
Aku penasaran apa yang dilakukan Daisuke, tapi yah…aku ada latihan.
Class A Ballroom, Stray Cat Enterprise.
“HEEEEIII!!! Harusnya lebih lincah lagi!!! Masa pelan gitu, cuma lenggak-lenggok sana-sini, seperti bebek?! Mana bisa melakukan Ballroom Dance atau Couple Dance kalau lemes macam gitu?” teriak Tommy yang dari tadi mengamati Silvia dan Eddie latihan. Dan pendapat itu juga diterima olehku dan Erica sekitar 5 menit sebelumnya. Sepertinya, dia punya selera tinggi dalam dancing…
Sekitar beberapa kemudian, Tommy merebut tangan Silvia dan mempertunjukkan gerakan dansa yang benar. Entah kenapa, aku merasakan aura pembunuh ketika itu…
“Kita kembali ke dasar! Satu tangan memegang tangan pasanganmu, lalu satu tangan memeluk pasanganmu, itu dasar dari Ballroom Dance! Eddie, kesalahanmu tadi, aku lihat kamu memegang tangan Silvia terlalu keras, sehingga kelincahan kalian berkurang! Argento, kesalahanmu adalah di kaki! Apaan itu, gerakan kakimu kalau ke samping lebih mirip kepiting daripada seorang gentleman! Jangan kaku begitu lain kali!!”
“Maaf pak…” kataku dan Eddie dengan lemas.
*KREK*
“Eh?” Tiba-tiba ada suara muncul dari tangan Tommy, seperti suara tulang patah.
“Dasar bapak-bapak ganjen…datang-datang langsung main peluk, langsung main pegang tangan…” Uh oh. Aura yang aku rasakan di Bar kembali datang.
“THIS HAND OF MINE GLOWS WITH AN AWESOME POWER!!! ITS BURNING GRIPS TELLS ME TO DEFEAT YOU!!! TAKE THIS! MY LOVE, MY ANGER, AND ALL OF MY SORROW!!! SHINIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING FINGEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEERRRRRRRRRRR!!! GO!!!GOO!!! GOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
“AAAAAAGGGGHHHH!!!!” jerit Tommy, yang akhirnya merasakan aura kemarahan Silvia…dan aku memutuskan untuk kembali menoleh dari mereka (Eddie dan Erica juga menoleh), karena aku nggak mau tahu apa yang dilakukan Silvia. Entah kenapa, tiba-tiba ada sebuah jeritan melewati pikiranku:
“Cat, what happened?! Cat?! CAAAAAAAAAAAAAAAAT?!?!?!”*
Trivia:
*Referensi Metal Gear Solid, dari perkataan kalau jagoan kita mati.
2 Hours Later…
“…baiklah, sepertinya cukup sampai di situ saja *uhuk* dulu untuk sore ini. Memang, lagu *uhuk* Ballroom Dance mempunyai ritme yang *uhuk* susah, tapi kalau *uhuk* banyak belajar, *uhuk* pasti bisa *uhuk* kok…HOOOEEEEKKKKK!!!!”…ujar Tommy, yang benar-benar kena pengaruh Shining Finger kepunyaan Silvia…
“Err…terima kasih atas latihannya ya. Kalau nggak dilatih, mungkin kita akan benar-benar clueless dalam turnamen nanti,” kataku.
“No *uhuek**uhuek* problem, karena aku *uhuek* sendiri diminta *uhuek* oleh teman *uhuek* akrab, jadi nggak *uhuek* mungkin aku tolak, *uhuek* kan *uhuek**uhuek**uhuek**uhuek*? Kata Tommy. Benar – benar parah Shining Finger ya, untung aku nggak pernah ada niat untuk iseng ke Silvia.
“Err…sebagai permintaan *ohok* maafku, bagaimana *ohok* kalau aku traktir ke kafe kepunyaanku *ohok*?” kata Tommy.
“Tentu saja! Aku haus nih, belum minum dari tadi…” kata Eddie.
“Hah? Kamu lupa kalau di backstage ada kulkas yang penuh Cielo Mist dan Liquid Snake? Kata Erica.
“Yang benar?! Aku ke backstage dulu kalau begitu, ambil minum!” kata Eddie sambil bergegas ke backstage yang terletak di sudut barat ruangan.
“Kalau gitu, nanti Eddie nggak usah ditraktir minum aja ya?” kataku bercanda.
“Hah?! Hukum dari mana itu? Aku kan juga ingin minum yang agak mewah atau apalah sekali sekali!” kata Eddie, yang segera menghentikan kakinya begitu mendengar ucapanku.
Semua orang di ruangan itu tertawa terbahak-bahak, termasuk Tommy…yang tertawa sambil seperti tersedak sesuatu.
Kami membuka pintu utama untuk keluar dari Ballroom. Ketika pintu dibuka, ada sinar putih yang menyelimuti mataku dan membutakanku beberapa saat.
Setelah aku membuka mataku beberapa saat, aku berada di ruang putih yang aku kenal baik, Chamber Of Existence. Sekarang, tempat itu menjadi sedikit lebih meriah. Selain tambahan vas bunga sebelumnya, sekarang ada sebuah meja kopi keramik berwarna putih di antara sofa tempat Weiss duduk dan di kursi dimana biasanya aku duduk. Selain itu, di sebelah kiri dan kana Weiss terdapat seorang pemuda yang kelihatannya mengantuk dan seorang wanita muda yang cantik.
“Halo Argento!! Wahaha, kamu ini hebat, tapi sedikit terlambat juga ya! Padahal, sebelumnya aku bisa langsung menerima jiwa-jiwa yang berhak masuk ke sini. Sekarang, karena keadaan duniamu, aku hanya bisa menerima mereka di saat tertentu. Tapi, nggak apalah. Lebih rame!” kata Weiss dengan gembira, seperti anak kecil.”
“Mereka adalah penduduk baru tempat ini? Aku mengerti bagian itu, tapi untuk yang kesekian kalinya, aku sama sekali nggak ngerti kamu bicara apa seterusnya,” kataku.
Lalu, aku memperhatikan ‘penduduk baru’ tersebut. Pertama, aku memperhatikan wanita cantik di sebelah kanan Weiss. Dia mempunyai rambut emas yang sangat panjang, mempunyai postur tubuh yang ideal, lekuk wajah yang indah, dan mata yang ditutup.
“Salam kenal, namaku Fetablanca Belleza. Aku mengurus kebersihan tempat ini, sekaligus menjaga Weiss dan Samuel sebagai sosok ibu,” katanya dengan suara, yang sangat indahnya, membuat mukaku merah begitu mendengar suaranya dan melihat sosoknya.
“Ahaha, wajahmu merah Argento! Ternyata, tipe cewek-mu seperti dia ya?”tanya seorang pemuda di sebelah kiri Weiss, yang mungkin bernama Samuel seperti yang dikatakan Fetablanca.
Aku perhatikan pemuda itu. Dia memakai sebuah hoodie jacket berwarna putih, dan sebuah celana lusuh berwarna putih. Aku tidak tahu apakah itu celana jeans atau celana berbahan lain…Rambutnya pendek dan acak-acakan, membelah di bagian kiri, serta berwarna coklat. Dia juga kelihatan mengalungkan sebuah MP3 Player yang aku tidak tahu modelnya. Di sampingnya, ada sebuah gitar akustik berwarna putih dengan lining emas. Di badan gitar itu, ada sebuah tulisan berwarna hitam bergaya rock yang dibaca: Freedom, Hope, and Sin*1.
“Namaku Samuel Perezoso. Salam kenal, Argento! Dan hei, aku tidak pernah tahu kalau kau dan Weiss sama-sama suka wanita berambut pirang! Aku melihatnya sebelum aku diterima di sini; bagaimana Erica?”
“Eh? Bagaimana kamu tahu?” tanyaku keheranan.
Beberapa saat kemudian, Weiss berdiri dari sofanya dan mengambil gitar kepunyaan Samuel, lalu memukulkan ke kepala Samuel.
“Aaaagghhh….” Samuel terjatuh dengan lunglai, dengan muka yang ingin ditonjok.
“Anyway Argento…aku berterima kasih atas tambahan 2 jiwa malang ini…biarpun, aku nggak ingin orang seperti Samuel sih…” kata Weiss.
“Omong-omong Gen, Weiss…augh…punya informasi penting untukmu. Hei, Shiro! Aku aja yang menerangkan ya?” kata Samuel, sambil berusaha bangun.
“Boleh saja, tapi aku bukan anjing*2,” jawab Weiss yang berusaha meng-uppercut Samuel, tapi bisa dihindari.
“Begini. Ada jiwa liar yang terperangkap di duniamu dan tidak bisa masuk dalam lautan jiwa diluar Chamber Of Existence. Bisakah kamu melacak jiwa tersebut dan menghiburnya dalam masalahnya sehingga dia bisa di-reinkarnasi di sini?”
“Aku sih nggak masalah…tapi penduduk Audition City itu jutaan. Mana bisa aku menemukan satu arwah penasaran dengan mudah? Lagipula, darimana kau tahu hal ini?” kataku.
“Aku bisa melacak jiwa-jiwa tersesat itu. Kelihatannya, jiwa tersebut sudah mengambil bentuk fisik, sehingga melanggar hokum kehidupan yang ada. Jangan kuatir bila kau tidak bisa melacaknya, karena jiwa itu terdapat di dekatmu,” kata Fetablanca dengan kalem.
“Begitulah situasinya. Aku minta tolong bantuanmu. Jiwa-jiwa seperti itu bisa merusak keseimbangan duniamu. Dan bila duniamu rusak, tempat ini, termasuk aku akan hilang. Aku mengharap yang terbaik darimu,” kata Weiss, sambil menyabetkan tandanya, pertanda aku dikembalikan ke dunia nyata.
Cahaya putih menyelimuti ruangan, dan jiwaku terasa berputar-putar. Tanpa sadar, aku telah kembali ke dunia nyata.
*1= Referensi dari Game Fighting berjudul Guilty Gear. Sol Badguy mempunya sabuk berukiran Free, Ky Kiske mempunyai sabuk yang sama, berukiran Hope. Anak dari Ky, bernama Sin…you get the idea.
*2= Crayon Shinchan.
“Argento? Kamu melamun apa?”
“Ah!” Begitu aku sadar, Erica sudah berdiri di dekatku.
“Ayo, kamu mau pergi apa nggak?” teriak Silvia yang berdiri agak jauh dariku.
“Ah, tunggu dulu, aku segera ke sana!” kataku.
Anyways, hari ini benar-benar rame. Festival di Old Marketplace, teriakan dari instruktor dansa kami, sampai permintaan Weiss. Sambil berjalan keluar ballroom, aku memikirkan, siapakah ‘jiwa liar’ yang terdapat di depanku. Karena aku sudah capek, aku tidak mau memikirkan lebih lanjut, dan mengikuti Tommy dan yang lain untuk makan.
Chapter 7 End,
To Be Continued in Chapter 8: Warmness in the Cold Air
Chapter 8:
Warmness In the Cold Air
Violet Spring Of Love…
Salah satu event Couple Competition yang paling terkemuka di Audition City, dimana para pesertanya, selain mendapat hadiah uang yang sangat besar, juga akan mendapat tiket menuju ke Malibu Beach untuk berlibur bersama teman sang pemenang.
Biarpun begitu, aku yakin ada sesuatu yang lebih dari kemenangan bisa didapat di kompetisi ini. Kekompakan. Perasaan puas. Emosi. Kasih sayang. Dan kehangatan para pendukung yang mendukung kontestan. Semua hal tersebut adalah hal yang belum pernah kudapat selama karirku sebagai dancer Audition City. Di sini, seharusnya seorang dancer tugasnya membawa kebahagiaan kepada orang yang melihat pertunjukkan mereka. Aku sendiri? Well…aku tidak tahu apakah aku ini membawa kebahagiaan atau tidak. Fuzz terluka parah sampai sekarang karena membantuku di Audition City Regional School beberapa hari lalu. Dari saat itu, sebenarnya aku sudah ragu akan niat baikku. Di kompetisi ini, aku disuruh Erica untuk ikut sebagai kontestan bersamanya, dengan tujuan membuat Silvia mengerti arti ‘cinta’ lagi, biarpun semu. Dari awal, Silvia mengikuti kompetisi ini hanya untuk uang…dan pemilihan Eddie sebagai partnernya, adalah karena menurut Erica, cuma dia laki-laki yang mau mendengarkan dan menuruti perintah Silvia tanpa ba-bi-bu. Tanpa sadar, aku sempat berpikir…bahwa niat baikku yang ingin menyadarkan Silvia, mungkin akan sia-sia…Aku takut, jika Silvia tahu alasanku mengikuti kompetisi ini, dia mengatakan aku ikut campur urusannya. Aku takut, jika nanti dia berpikir, orang ‘jujur’ yang diperkerjakannya ini, suka ikut campur, membangkang…aku merasa tidak enak, padahal, dia sudah memberikanku kamar yang nyaman untuk tidur…
Apakah…segala niat baik yang aku lakukan selama ini benar-benar kehendakku sendiri? Aku tidak yakin…
Aku bisa menyembunyikan emosi-ku terhadap teman-temanku, tapi, sampai kapan perasaan gelisah ini harus aku tampung? Sampai kapan, aku harus menanggung beban yang aku angkut sendiri, dengan muka yang ringan?
Dan seiring berdetik-nya jam, seiring bergantinya siang malam, tanpa terasa, besok kompetisi akan dimulai.
Old Marketplace, “Senor Mariachi Café”
11:03 a.m., A day before the competition began.
Selama beberapa hari ini, aku sering ke sini untuk minum kopi ala Old Marketplace yang terkenal nikmatnya. Sambil aku menjadi langganan di sana, Nana, yang bekerja di tempat ini (sekaligus menjadi semacam ikon bagi café ini karena penampilannya yang menarik), selalu menyempatkan dirinya untuk mengobrol denganku. Biasanya, kita cuma mengobrol santai, mulai dari menanyakan masalah bar, bagaimana kabar yang lain…hebat juga dia, hanya dalam beberapa hari, dia diterima dengan sangat akrab oleh orang-orang sekitarku, termasuk aku juga. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa mengobrol santai denganku di jam kerja. Aku bisa memahaminya setelah melihat bos-nya yang setiap hari menggoda pelanggan wanita tanpa memperhatikan jam kerja…
Entah kenapa, setiap aku berbicara santai dengan Nana, aku merasakan nafsu membunuh yang kuat di sekitarku…mungkin, para pelanggan (yang kebanyakan laki-laki) iri? Haha, like that would happen…
Hari ini juga, aku mengunjungi café ini, untuk berbicara santai sambil meminum sebuah cappuchino dan memakan sebuah Cheesecake. Lalu aku berpikir…apa mungkin dia bisa aku ajak bicara tentang masalahku? Ketika aku akan memulai pembicaraan, dia sudah berbicara duluan.
“Err…Nana, begini…”
“Tentang kompetisi besok? Don’t worry, nanti aku pasti datang untuk mendukung deh!”
“…siapa yang memberitahumu?” tanyaku dengan heran. Harusnya dia belum tahu tentang kompetisi itu…
“Erica yang mengatakannya kepadaku sore hari yang lalu. Dia memintaku menonton kalian.”
“Ya ampun…lagi-lagi, dia yang memberitahukan duluan…”
“Huh?”
“Begini…tadinya aku sendiri bermaksud menceritakan hal ini kepadamu…tapi, aku sendiri tidak tahu kenapa aku ingin menceritakan hal ini kepadamu. Seperti…ada bisikan bahwa aku harus menceritakannya kepadamu dahulu, baru ke yang lain…”
Sounds like some corny line from a romance B-Movie, right?
“Eeeh? Kelihatannya seperti perkataan dari film percintaan kelas B- Movie?”
JLEB.
“Hihihi, nggak usah takut begitu ah, aku akan mendukung kalian kok, mau kalian menceritakannya atau tidak. Itu karena, kebetulan karyawan kami ada yang menjadi peserta dalam kompetisi itu,” katanya.
“Yang benar?! Jadi, ada kemungkinan, aku, atau Eddie akan berhadapan dengan karyawan café ini?!”kataku dengan kaget.
“Betul! Hihihi…” katanya dengan gembira.
“Tapi jangan kuatir. Aku yakin, kalian akan menang. Aku bisa melihatnya dengan sekali lihat, bahwa pasangan yang kalian pilih itu tidak salah. Aku harap, kalian tetap seperti itu, selamanya…” katanya.
…Aku tidak bisa mengatakan, kalau kami berempat sebenarnya belum mempunyai perasaan sebagai sebuah couple. Hell, aku dan Erica saja kemarin bertengkar. Biarpun aku tidak tahu kenapa, setelah pertengkaran itu, mulutku tergerak untuk tersenyum.
“…ya. Terima kasih,” kataku dengan lesu.
“Kok lesu begitu, Argento?” tanya Nana.
“Tidak…aku tidak apa-apa…” kataku yang teringat kembali dengan apa yang aku pikirkan beberapa hari ini.
“Kalau ada masalah, ceritakan saja kepadaku. Aku tahu kita baru bertemu 5-6 hari, tapi kita sudah menjadi teman kan? Yah, anggap saja aku bisa menjadi Big Sis untukmu,” kata Nana yang mencoba menghiburku.
“…terima kasih deh, tapi aku tidak terlalu mempunyai masalah sekarang,” balasku.
Entah kenapa, barusan…aku benar-benar ingin tersenyum.
“Heeeei, kamu lucu juga kalau lagi tersenyum!” kata Nana.
“Ack! Hei, ngapain kamu melihatku seperti itu?” kataku. Ternyata, aku memang tersenyum ya?
“Oh nggak, bukan apa-apa,”
Kami terdiam untuk beberapa saat. Entah kenapa, hawa ini…suasana ini…dan kesenanganku sekarang, terasa sangat familiar. Aneh…padahal, aku baru bertemu dengannya 5 hari. Siapa dia sebenarnya?
“Sesaat tadi…” Nana membuka pembicaraan. Mukanya tersenyum, tapi nada suara-nya jelas-jelas sedih.
“Aku tiba-tiba teringat sesuatu…rasanya, barusan ada seseorang yang terlintas di pikiranku…”
“Rasanya…seperti seseorang yang sangat penting…”
Kami lagi-lagi terdiam sesaat. Entah kenapa, aku tidak tahu pembicaraan akan menjadi begini. Lalu, aku mencoba membuka pembicaraan dengan topik yang lain.
“Err, jadi…besok kamu akan menontonku kan, di Dome Of Pride?” kataku.
“Ah…Ya, tentu saja! Aku tidak sabar melihat kalian beraksi!” kata Nana.
Berikutnya, aku memakan Cheesecake-ku, yang dari tadi baru termakan sedikit. Setelah menghabiskannya, aku meminum cappuchino-ku dengan sekali teguk, lalu langsung membayarnya begitu keduanya aku habiskan.
Setelah selesai membayar, aku langsung pulang ke Bar.
South District, Hot Flames Bar:
11:37 a.m.
“Aku pulang,” kataku sambil memasuki bar.
Siang ini, aku melihat sekitar 6 orang pelanggan di Bar ini. Keramaian mereka membuat bar ini terasa hidup.
“Sudah pulang ya, Argento?” kata Silvia sambil menyambutku dari balik meja bartender.
“Mana Eddie?” tanyaku.
“Dia mau beli sepatu baru untuk besok,” kata Silvia.
Lalu, aku duduk di kursi di depan meja bartender. Begitu aku duduk di situ, Silvia langsung memberika aku apel. Tanpa banyak omong, langsung aku ambil dan makan apel itu.
“Gen, kamu juga ikut kompetisi ini bersama Erica, kan?” tanya Silvia.
“Yeah. Nggak seru kalau aku cuma nonton saja, kan? Erica berpendapat sama kok,” kataku.
“Kita lakukan yang terbaik ya besok,” kata Silvia.
“Tentu. Aku tidak akan kalah darimu dan Eddie,” kataku.
Entah kenapa, aku tidak bisa merasakan kebahagiaan dalam perkataan ini.
“Aku mau tidur dulu ya. Kalau ada perlu, bangunkan aku saja,” kataku sambil beranjak dari kursi.
“OK. Mungkin bantu cuci piring…”
“…setelah aku pikir lagi, tolong jangan bangunkan aku. Aku mau istirahat,” kataku sambil membelakangi Silvia.
“Maaf Gen, di kuis manapun juga, jawaban pertama yang diambil! Fufufu~~~”
“…ini bukan kuis tahu? *hoooaahhm*” kataku sambil mengantuk.
Dengan langkah yang pelan, aku kembali ke kamarku. Begitu aku sampai di pintu kamar, aku langsung melemparkan diri ke tempat tidur.
Aku yakin aku telah tertidur, ketika aku merasakan sekelilingku berputar-putar, dan badanku terasa lenyap sepeti asap. Begitu aku membuka mataku, cahaya putih menyerang mataku. Ketika pandanganku pulih, aku telah duduk di Chamber Of Existence.
“Apaan nih Weiss, kok memanggilku lagi? kataku.
“Ah, nggak. Aku cuma mau menyemangatimu untuk kompetisi-mu itu besok. Tidak boleh?”
“Kau? Menyemangatiku?” kataku heran.
“Heran ya? Aku yakin kau heran, karena tiba-tiba, kau mendapat semangat dari teman-temanmu untuk memenangkan kompetisi itu. Aku kan temanmu, apa aku tidak boleh menyemangatimu?”
“Bukan itu…”
“Ah, sudahlah. Bagaimana kalau kami menghiburmu? Samuel, kamu mainkan gitarmu! Fetablanca, kamu yang menyanyi. Ayo!” kata Weiss sambil mengeluarkan sebuah Drum Set entah dari mana.
kaze no koe hikari no tsubu madoromu kimi ni sosoguwasurenai yasashii hohoemi kanashisa kakushita hitomi wonegau koto tsurakutemo tachimukau yuuki kimi ni morattadakara yukune yume no naka mezametara mata aeruyo tooi kioku mune ni hime utau hakanaku tayutau sekai wo kimi no te de mamottakaraimawa tada tsubasa wo tatande yukkuri nemurinasaieien no yasuragi ni tsutsumarete love through all eternityyasashiku mimamoru watashi no kono te de nemurinasaiwaratteta naiteta okotteta kimi no koto oboeteiruwasurenai itsumademo kesshite until my life is exhausted kousaten kikoetekita kimi ni yoku nita koefurimuite sora wo aogi miru koboresouna namida koraeteashita koso itsunohikamou ichido kimi ni aeru to shinji hitori mayoiame no yoru hareta asa machitsuzukete wasurenaiyo kakenuketa yoru wo mabayuku kagayaku hitotoki minna to issho dattakakegae no nai toki to shirazuni watashi wa sugoshite itaimawa tada taisetsu ni shinobuyou I will embrace the feelingkimi wa ne tashika ni ano toki watashi no soba ni itaitsudatte itsudatte itsudatte sugu yoko de waratteitanakushitemo torimodosu kimi wo I will never leave you hakanaku tayutau sekai wo kimi no te de mamottakaraimawa tada tsubasa wo tatande yukkuri nemurinasaieien no yasuragi ni tsutsumarete love through all eternityyasashiku mimamoru watashi no kono te de nemurinasaiwaratteta naiteta okotteta kimi no koto oboeteiruwasurenai itsumademo kesshite until my life is exhausted mabayuku kagayaku hitotoki minna to issho dattakakegae no nai toki to shirazuni watashi wa sugoshite itaimawa tada taisetsu ni shinobuyou I will embrace the feelingkimi wa ne tashika ni ano toki watashi no soba ni itaitsudatte itsudatte itsudatte sugu yoko de waratteitanakushitemo torimodosu kimi wo I will never leave you “Terima kasih atas waktunya,” kata Fetablanca dengan lembut.
“Wow! Sejak masuk ke tempat aneh ini, baru kali ini aku menyentuh gitarku lagi!” kata Samuel dengan bersemangat.
“Baru kali ini aku merasa bersemangat…then again, kami semua tidak mau melihatmu menjadi pesimis sehari sebelum kontes tersebut dimulai,” kata Weiss.
“Haha…aku tidak percaya aku akan disemangati oleh makhluk khayalan seperti kalian. Terima kasih banyak,” kataku.
“Kami bukan makhluk khayalan, tahu. Bukannya sudah kami bilang, bahwa tugas kami adalah menjaga dunia ini?”
“Aku sudah tahu itu. Cuma, kadang-kadang, aku merasa bahwa yang kalian ingin jaga itu aku, bukan dunia,” kataku.
“Tuan Argento,” sahut Fetablanca.
“Bagi kami semua, menjagamu sama pentingnya dengan menjaga dunia. Aku tidak tahu kenapa, karena Tuan Weiss belum memberitahuku. Tapi, aku dan Tuan Samuel merasakan keinginan untuk menjagamu begitu kami dilahirkan kembali menjadi penjaga ruangan ini. Maka dari itu, biarkan kami melakukan kewajiban kami, biarkan kami menghiburmu dalam suka dukamu, dan biarkan kami melakukan apa yang kami bisa untuk membantumu.” Kata Fetablanca panjang lebar, masih dengan nada suara yang halus.
“Benar, Gen. Begitu aku dilahirkan kembali ke sini dan melihatmu, aku juga merasa bahwa aku harus menjagamu, like a big brother taking care of his little brother, y’know?” kata Samuel.
“…terima kasih,” kataku. Aku tidak tahu harus bicara apa lagi…tapi, aku merasa sangat senang sekali mendengar perkataan mereka.
“Anyway, silakan kembali ke duniamu. Sudah sore lho,” kata Weiss sambil mengibaskan tangannya.
Seperti biasa, berikutnya, cahaya putih menyinari tempat ini, menelannya, dan mengembalikan aku ke dunia nyata.
Aku terbangun di kamarku, dan melihat jam. Sudah jam 5 sore. Matahari terbenam terlihat di jendela kamarku. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, karena hanya tertutup beberapa bangunan. Tapi, cahaya matahari terbenam itu terlihat sangat indah, lebih indah dari biasanya.
Setelah berganti pakaian menjadi jaket krem, celana hitam dan kemeja coklatku, aku turun ke bawah. Di bar, aku melihat 6 orang pelanggan. Dua orang pelanggan laki-laki dan wanita sedang memakan Salad spesial Bar ini, 1 orang pelanggan wanita (yang sepertinya reporter) terlihat sedang asyik dengan laptopnya di meja di dekat pintu masuk. Dan 3 orang pelanggan pria sisanya sedang asyik mengobrol sekaligus minum-minum di kursi yang disediakan di meja bartender. Di kursi itu, aku melihat Eddie dengan pakaian hoodie hitam dan camo pants hijau, dan Silvia dengan kemeja biru muda dan celana putih. Aku langsung mengobrol dengan Eddie dan Silvia tentang kompetisi besok.
“Hei,” sapaku.
“Tumben kamu tidurnya lama, gen?” kata Eddie.
“Nggak selama Eddie sih, kamu masih mendingan,” kata Silvia.
Sesaat aku terdiam untuk memikirkan topik yang bagus.
“Err…untuk kompetisi besok…kalian siap?” kataku.
“Aku lebih dari siap, gen! Demi tiket liburan ke Malibu Beach!!” kata Eddie dengan semangat.
“Jangan terlalu sombong dulu Eddie, apa saja bisa terjadi di sini,” kata Silvia.
“Don’t worry, pelatihan keras dari Tommy selama beberapa hari ini pasti ampuh! Percaya deh!” kata Eddie dengan optimis.
“Ngomong-ngomong, ada pelanggan sebanyak ini, kok tidak membangunkan aku? Aku kan bisa membantu, bukannya tadi aku bilang begitu?” kataku.
“Nggak usah deh. Aku sudah berhutang banyak kepadamu, jadi nggak apa-apa kan aku kasih cuti sebentar?” kata Silvia.
“Benar, kami merasa nggak enak sudah melukai wajahmu di sekolah berhantu itu…” kata Eddie.
“Ah, sudahlah! Itu masalah lama!” kataku.
“Mumpung aku nggak ada kerjaan, aku ikut bantu-bantu saja ya!” kataku menawarkan tenagaku.
“Aku juga deh, ketimbang grogi memikirkan kontes itu terus,” kata Eddie.
“Kalian…terima kasih ya!” kata Silvia dengan mata yang berbinar.
Maka dari itu, aku, Eddie, dan Silvia terus melayani bar sampai jam 7 malam.
“Aah~~~penghasilan kita banyak hari ini, tidak seperti biasa!” kata Silvia dengan riang.
“Hari ini kan hari aktif kerja, makanya rame dan banyak pelanggan. Menyambut musim semi ini juga masih dingin, jadi, yah…” kata Eddie.
“Whoah…capek juga ya, bekerja seperti ini. Aku sudah nggak kuat,” kataku.
“Kenapa nggak beristirahat aja dulu, gen? Aku yang ambil alih shift-nya deh,” kata Eddie menawariku.
“Dia benar. Kamu harus menyimpan tenaga untuk kompetisi besok,” kata Silvia.
“…kalau begitu, aku cari angin dulu ya? Di sini terasa panas,” kataku.
“Silakan saja. Hati-hati di jalan ya,” kata Silvia.
Setelah aku mengambil parka coklat tua di kamarku sebagai penghangat udara di sana yang memang dingin, aku keluar dari bar setelah pamit kepada Silvia dan Eddie.
South District, Public Park:
07:12 p.m.
Aku memutuskan untuk pergi ke taman umum yang terletak sedikit jauh dari Bar, di pinggir distrik. Taman berbentuk segi enam itu mempunyai air mancur yang indah di tengahnya. Di sekeliling air mancur itu, terdapat sekitar 8 bangku kayu, dimana terdapat 2 di setiap sisi. Di pojok taman ada toilet umum, dan di dekat air mancur itu terdapat sebuah mesin penjual minuman, yang juga terletak di pintu masuk taman.
Aku mengambil tempat duduk di salah satu bangku di dekat air mancur tersebut. Kulihat sekitar. Sangat sepi, tidak terlihat seseorang-pun. Suasananya sangat tenang. Lalu, aku melihat ke langit. Aku melihat bintang-bintang di atas bersinar dengan terang sekali. Sambil melihat bintang-bintang itu, aku memikirkan kembali tentang kejadian selama ini.
Semua orang menghiburku…menyemangatiku…bahkan Weiss dan ‘teman-temannya’ sekalipun. Kalau kulihat ke belakang, sewaktu masa Novice, aku selalu berdiri sendiri, tak ada yang menemani…
Sekarang…aku bahkan tidak menyangka aku akan berteman dengan sekumpulan makhluk halus nggak jelas. Dunia sudah berubah untukku. Aku yang dulu pesimis terhadap segala hal, sekarang dapat melihat dunia dengan mata yang lebih jernih. Biarpun perasaan sewaktu era Novice itu muncul kembali akhir-akhir ini, aku akhirnya di sini berpikir, “buat apa aku memikirkannya”, pikirku.
Ketika pikiranku sudah merasa lega, ada sesuatu yang hangat di pipi kananku.
“Halo, Argento! Kok sendirian?”
Aku menoleh untuk melihat Erica, yang memakai jaket coklat muda dan jeans, menempelkan sekaleng kopi hangat di pipiku, yang sepertinya baru dibeli di mesin penjual di dekat sini.
“Boleh aku menemanimu?”
“Tentu saja.”
Kami berdua melihat langit yang penuh bintang. Hampir tidak ada kata diantara kami selama beberapa menit. Setelah aku sedikit meminum kopiku, aku berbicara kepada Erica.
“Langitnya indah ya?” kataku.
“Ya. Suasana yang bagus untuk menyambut perlombaan tersebut.”
“Musim dingin sudah berlalu, tapi tetap saja dingin ya?”
“Iya, itu sebabnya sekarang aku memakai jaket ini.”
Setelah itu, kami terdiam satu sama lain. Beberapa saat kemudian, Erica memulai pembicaraan.
“Hei, Argento. Masih ingat ketika aku mengatakan tujuan Erica mengikuti kontes besok?”
“Ya. Kamu bilang hanya karena uang. Aku masih ingat ketika kamu menamparku kok,” kataku.
“Maaf yang waktu itu ya…” kata Erica yang menoleh padaku, dengan senyuman yang sedih.
“Tidak apa-apa. Aku yang salah, membentak duluan,” kataku, mencoba menghiburnya.
“Kamu tahu…sebenarnya, setelah aku pikir-pikir lagi, tidak ada gunanya aku memikirkan alasan Silvia.”
“Huh?”
“Kalau dilihat posisinya sekarang, aku sama dengannya, memanfaatkanmu untuk menyadarkan temanku. Aku minta maaf…”
“Ayolah! Nggak usah begitu! Aku juga sudah berusaha melupakannya kok,” kataku, mencoba menghiburnya lagi.
“Ya…”
“Alasanku berpikir yang tidak-tidak seperti itu…sebenarnya hanya karena aku takut. Aku takut masa lalunya, membuat Silvia melupakan arti persahabatan kami hanya demi kepentingannya sendiri…”
“Apa maksudmu?”
“Silvia pernah menceritakan kepadaku. Dulu, dia mempunyai seseorang yang sangat penting baginya. Mereka berdua tinggal di penampungan yatim piatu. Karena tidak tahan dengan perlakuan teman sesame panti asuhan, dia menyetujui permintaan seorang suami istri yang ingin mengadopsinya. Kemudian, ketika Silvia ingin tahu keberadaan orang penting tersebut, dia terkejut, karena orang tersebut sudah mati…terbakar bersama panti asuhannya sekaligus.”
“Hmm…aku masih tidak mengerti,” kataku.
“Yang aku takutkan, adalah dia berpikir bahwa hanya demi kepentingan dia sendiri, dia pergi bersama orang tua angkatnya, pergi meninggalkan orang tersebut.Aku takut dia menyalahkan diri sendiri atas kematiannya…”
“Aku baru tahu cerita ini…”
Sesaat, suasana membisu. Tak ada suara sedikitpun. Yang ada hanya desahan daun dari pohon sekitar yang ditiup angin.
“Argento…”
“Hm?”
“Selama waktuku bekerja bersamamu, alasanku untuk menyadarkan Silvia pun musnah sedikit demi sedikit. Lama-lama, aku berpikir bahwa mungkin, aku hanya ingin bersama temanku. Aku merasa, mungkin aku hanya ingin mempedulikan teman-temanku, Dan…”
Suasana sekitar lagi-lagi terdiam untuk beberapa detik, sebelum aku memulai pembicaraan.
“Erica?”
Sesaat kemudian, Erica berdiri dari kursi.
“Kalau begitu, aku pulang dulu. Selamat malam, Argento,” kata Erica sambil berlalu membelakangiku.
“Selamat malam,” kataku.
Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Erica membalikkan badannya kembali menghadapku.
“Argento?”
“Ya?”
“Mari kita berjuang untuk menang besok,” katanya sambil tersenyum.
“Baiklah. Aku akan berusaha,” kataku, sambil membalasnya dengan senyuman juga.
Setelah Erica berlalu, aku menatap langit yang penuh bintang. Aku tidak tahu kenapa, berikutnya aku tertawa. Benar-benar tertawa. Aku sendiri tidak percaya aku masih bisa benar-benar tertawa. Tawa ini…seperti tawa dari hati.
Chapter 8, End.