HGO - The Official Guild

Those Silver Pages, Chapter 1.

Audition AyoDance Fanfic:

Those Silver Pages

 

Di kota ini, Audition City…

Kota yang sering disebut sebagai surga para dancer terkemuka.

 

Aku mencoba pergi ke kota ini, meninggalkan kampung halamanku jauh di sana,

hanya mencoba untuk mencari pamor sebagai dancer.

Karena, di kampung halamanku sebelumnya, aku selalu gagal dalam karirku.

 

…Impian itu, ternyata hanya khayalan belaka.

Aku berjuang keras, hanya agar aku bisa memperoleh identitas sebagai dancer tingkat ‘Novice’,

perjuangan itu kulalui dengan mudah.

 

Tapi ternyata, duniaku setelah aku menjadi dancer tingkat ‘ Novice’ lain.

Aku menjadi yang paling bodoh sendiri diantara mereka.

 

Dimanapun aku diundang untuk membantu para dancer lain adu dansa melawan selebritis kota,

aku selalu gugup, dan akhirnya selalu gagal.

 

Kebodohanku itu membuatku ditendang dari berbagai event, berbagai bar, dan berbagai club secara tidak terhormat, entah karena aku terlalu bodoh, atau kadang-kadang ketika teman pemilik venue tersebut itu datang, aku selalu ditendang keluar secara tidak terhormat.

 

 Padahal, kalau masalah kemampuan, aku sangat yakin kalau aku sebanding dengan mereka, malah aku yakin kalau aku lebih hebat dari mereka. Kesinkronanku terhadap nada-nada lagu lebih baik daripada mereka, aku yakin aku bisa bergerak mengikuti lagu dengan sangat baik!

Tapi begitulah akhirnya… aku tidak pernah tahu alasan dari pengusiranku.

 

Kapankah aku bisa bermain secara damai, bersama teman yang selalu ada di sebelahku?

Kapankah aku bisa meraih sukses sebagai dancer?

 

Aku sudah tidak bisa kembali ke kampung halamanku…aku tidak punya uang untuk memperpanjang izin tinggalku di sana.

 

…Apakah hidupku ini hanya sia-sia?

Sampai kapan aku harus terbang, hanya untuk mencari dahan untuk beristirahat?

 

Chapter 1:

That Comfortable Bar.

 

Aku tidak punya tempat menghibur diri di kota ini, aku cukup malu bergabung dengan Bar lain. Pernah aku mengunjungi dan mencoba untuk berbicara dengan penduduk suatu bar, tapi aku sama sekali dianggap tidak ada.

 

Jadi, aku selalu mencari bar yang kosong, atau bar yang baru buka. Kupikir, kalau aku memulai pertemananku dari nol, aku bisa berbaur dengan mereka.

 

Suatu hari, aku melihat pamphlet tentang suatu bar yang baru buka. Namanya Hot Flames Bar. Aku coba mengunjungi bar ini, mencoba mencari teman. Paling nggak, cari makan sedikit. Aku sudah lama nggak makan enak.

 

Dan, aku terkejut, letaknya ternyata tidak jauh dari tempat aku biasanya nongkrong. Cepat saja aku menuju ke sana.

 

Sesampainya di sana (setelah berjalan sekitar 10 menit):

 

“Selamat Datang!” Seseorang wanita manis menyapaku di pintu masuk.

“Aku tidak pernah melihatmu di sekitar sini, kamu penduduk baru ya?”v

“Err…iya. Aku sedang mencari tempat nongkrong…” Aku menjawab dengan gugup.

“Kamu datang ke tempat yang tepat! Selamat datang di bar ini! Namaku---“

“Silvia, ayo lanjutkan pestanya! Bukannya kamu yang mengajak duluan?” Seorang lelaki di salah satu sudut bar berteriak.

“Aduh, namaku sudah disebut duluan ya? Fufufufufu~~~”

“Tunggu sebentar Gustav, ada pelanggan baru nih~~~” Dia berbicara dengan suara yang kekanakan.

Ayo, jangan diam saja! Kamu lapar kan?” ’Silvia’ berbicara kepadaku.  Duh, tahu juga dia tentang kondisi perutku.

“Terima kasih ya nona. Aku duduk di tempat lain saja agar tidak mengganggu kalian.”

 

Lalu, aku mengambil salah satu tempat di dekat jendela depan bar. Aku mengambil tempat di dekat pintu keluar. Kuperhatikan interior bar tersebut. Bar ini kelihatan lumayan mewah, lantainya adalah pernis kayu. Kualitas tinggi lagi. Temboknya berwarna krem gelap. Mungkin kelihatan suram, tapi di mataku, kelihatan menambah kemewahannya.  Di salah satu sudut, dekat meja bartender, terdapat dua buah mesin pinball dan sebuah jukebox. Lalu, dibelakangku terdapat 2 toilet, di sana juga terpampang spanduk bertuliskan:

 

Selamat Atas Keberhasilannya Menjadi Master Bar di Hot Flames Bar.

 

Di belakang meja bartender di sisi kananku, terdapat dapur kecil. Silvia sedang memasak untuk tamunya (yang kelihatannya adalah temannya). Baunya…entah kenapa aku malah merasa akan mati begitu merasakannya. Di dekat dapur itu juga ada rak anggur dan beberapa minuman lainnya. Biarpun begitu, aku sama sekali tidak berniat, aku tidak minum – minum.

 

Dari sini, aku juga memperhatikan 2 orang yang ada di bar ini. ‘Silvia’ itu ternyata kalu diperhatikan lebih mirip anak kecil. Wajahnya bulat,dan ngomongnya seperti anak kecil, pas deh. Rambutnya cukup lumayan untuk dilihat, biarpun tidak terlalu anggun, namun rembutnya memantulkan cahaya lampu bar, membuatnya berkilau kecoklatan.

 

‘Gustav’ itu kelihatannya lebih dewasa daripada Silvi, dan kelihatannya juga lebih tua dari dia. Lihat saja cara berpakaiannya, mantel abu-abu panjangnya seperti yang dipakai bapak-bapak.

…Biarpun rambutnya lebih kelihatan seperti rocker, disisir ke belakang.

 

“Permisi, bisakah aku memesan secangkir kopi saja?” Aku berbicara kepada Silvia sambil pindah meja.

“Tunggu sebentar yaaa~~~~akan segera siaaap~~~~” Silvi menjawab, masih dengan suara kekanakannya.

Berikutnya, aku ikut nimbrung di meja bartender, sekalian mendengarkan pembicaraan Silvia dan tamunya yang kelihatannya menarik.

 

“Aduh, kemarin aku kalah main nih di warnet. Udah Equip hilang, disampah lagi! Nasib, nasib…” Pria yang disebut Gustav itu berbicara.

“Udah gitu, akhir-akhir ini game itu banyak yang main curang kan? Silvia membalas.

“Iya nih, makin bête aja mainnya.”

 

Oh, mereka pasti membicarakan suatu game online yang populer belakangan ini. Tapi aku tidak memainkannya, jadi aku pura-pura tidak dengar saja.

 

2 Menit Kemudian…

 

“Ah, iya. Ini kopinya sudah selesai! Dinikmati ya~~~” Silvia memberikan kopi racikanya kepadaku. Langsung saja kuminum, sudah lama aku tidak minum kopi.

 

Dan…WOW!! Rasanya ternyata pas dengan seleraku, agak pahit sedikit. Tahu aja dia!

 

Kringgg~~~~~~~

 

Di saat aku menikmati kopiku (dengan terpesona), lonceng pintu bar tiba – tiba berbunyi.

Dari sana, aku melihat seseorang berambut spiky dan berjaket hitam.

Di jaketnya, aku bisa melihat suatu tanda pengenal bertuliskan:

 

“Daisuke, Novice-Class Dancer. LVL 8”

 

Ternyata dia juga dancer sepertiku.

 

“Permisi, aku bisa pesan  nasi kari?” Kata ‘Daisuke’ itu.

“Tunggu yaaa~~~~~~~” Silvi menjawab, lagi-lagi dengan gaya kekanakan.

 

Daisuke’ itu lalu menoleh ke arahku, dan melihat tanda pengenalku yang aku tampakkan sedikit dari saku jaket coklatku.

 

“Eh, itu Dancer ID ya? Bisa aku lihat?”

Tanpa menjawab, aku serahkan Dancer ID-ku, lalu dia membacanya dengan agak keras.

 

Argento, Novice-Class Dancer LVL 10…WAAAAAHH?!?! Kamu juga dancer? Dan sama mudanya dengan aku!” Dia kelihatannya terkejut.

“Err…” aku mencoba menjulurkan tangan untuk mengambil Dancer ID-ku, tapi dia menginterupsi.

“Wah, senang rasanya,aku nggak jadi anak kecil sendiri di kota ini!” Anak kecil apanya, I’m older than I look, you know?

“Sama-sama,senang bertemu kamu. Kamu Daisuke kan?”

“Iya! Eh, bagaimana kalau datang ke acaraku?! Aku lagi cari orang nih untuk meramaikan acara!”

“Boleh saja.” Aku menjawab tanpa pikir panjang.

“Kapan acaranya?”

“Begini…blablablablablabla…”

 

Kami terus berbicara selama 10 menit. Selama itu, aku ditraktir kentang goreng olehnya. Lumayan makan gratis, kan nggak kenyang kalau cuma minum kopi.

 

“Baiklah! Aku tunggu ya?!?! Ingat lho jamnya!”

“Iya, aku akan datang tepat waktu, jangan kuatir.”

“Sampai besok!”

 

Setelah pembicaraan selesai, dia pergi meninggalkan bar.

 

Aku terdiam selama beberapa detik, sebelum menyadari apa yang kukatakan.

 

…YA AMPUNNNNN?!?!?!

Kenapa aku menyanggupi dia begitu saja, bukannya berpikir dulu?

Aduhhh…acara yang aku isi kan selalu berbuah memalukan, gimana inii?!?!?!?

Chapter 1, Over. To be continued in Chapter 2

Those Silver Pages,Chapter 2.

Chapter 2:

Three Stage, First Phase

 

Keesokan harinya, jam 8 pagi, aku bangun dari tempat peristirahatku (untuk sekarang), sebuah losmen kecil di distrik pelabuhan. Kamu bertanya kenapa aku ada di sana? Soalnya aku harus cepat untuk acara hari ini. ‘Daisuke’ itu memintaku untuk mengisi pestanya di Coconut Island. Dia bilang, disana dia punya villa. Wah, kaya sekali dia.

 

Di perjalanan menuju kapal feri yang membawaku ke Coconut Island, aku bertemu dengan Daisuke lagi. Kali ini dia membawa 2 orang. Yang satu berjaket putih, bercelana hijau dan berambut cepak.Jaketnya membuatnya terlihat lebih gemuk dari yang sebenarnya. Dari bajunya, aku bisa melihat tanda pengenal yang bertuliskan:

 

“W.I.C.K.E.D., Novice-Class Dancer LVL 8”

 

Dia dancer juga?!

 

Orang yang satunya berambut biru, berbaju putih berompi biru, dan bercelana panjang putih. Di bajunya juga terlihat sebuah name tag, bertuliskan:

 

“Brahms, Advanced-Class Dancer LVL 15”

 

Waw! Levelnya tinggi sekali! Dia pasti menjadi bintang acara nantinya.

 

“Wah, wah! Selamat pagi, Argento-san!” Daisuke menyapaku.

“Selamat pagi. Apa mereka…” Belum kuselesaikan kalimatku, dia memotong.

“Yap! Mereka juga dancer yang kusewa untuk meramaikan acaraku! Kenalkan, dia Argento, yang aku bicarakan kemarin!”

“Yo.” Kata Brahms, singkat.

Halo,senang bertemu denganmu!” Kata Wicked.

 

Setelah aku memasuki kapal, aku beristirahat di dalam dek, melihat lautan.

…Indahnya pemandangan ini. Kulihat laut memantulkan sinar matahari, sehingga warnanya semakin cerah.

Kalau saja aku bisa menikmati suasana ini setiap kali…

 

“Hei, Argento! Kenapa dengan mukamu itu? Mabuk laut?”  ‘W.I.C.K.E.D.’ menyapaku tiba-tiba, dari belakang.

“Oh, nggak kok. Aku cuma agak melamun aja, err…” Aku berusaha memikirkan namanya, tidak mungkin ‘kan W.I.C.K.E.D. itu namanya?”

“Kamu bingung namaku juga ya? Panggil saja Eddie.”

“Senang bertemu denganmu, Eddie.” Aku menjawab.

“Sama – sama. Eh, menurutmu, bagaimana kemampuan Brahms itu?” Dia menunjuk Brahms, yang…tertidur di pojok.

“Well, karena dia termasuk Advanced Class, dia harusnya hebat kan?”

“Iya sih, aku cuma penasaran aja. Aku nggak pernah liat Advanced-Class beraksi sih…”

 

Baru lihat ya? Aku juga baru lihat kelas Advanced beraksi.

…Dan entah kenapa, melihat name tag-nya saja, aku tiba-tiba bersemangat. Apa itu berarti aku masih ingin menjadi dancer dari lubuk hatiku yang paling dalam?

 

30 Menit Kemudian…

 

“Baiklah, saudara-saudara! Selamat datang di Villaku yang sederhana ini!” Teriak Daisuke begitu kami berlabuh di sebuah pelabuhan.

 

WOW! Villa ini besar sekali,pikirku. Dia akan bisa mendapat uang banyak bila dia jadikan villa ini sebagai resor.

Di teras villa tersebut terdapat sebuah air mancur mewah…yang dibawahnya terdapat banyak koin.

Heran aku, kenapa sampai sekarang masih aja percaya takhayul?!

 

Rumput yang dia tumbuhkan di sekitar villa terlihat hijau sekali, beserta bunga-bunga dan pohon kelapa yang tumbuh subur. Gilanya, di kebun itu terlihat banyak sekali tukang kebun yang mengurusnya! Sekaya apa dia, bisa punya surga sehebat ini!

 

“Kita akan memulai pertunjukan di sini?” Tanyaku.

“Nggak sih, aku cuma mau mengangkut beberapa minuman dingin buat diminum di lokasi. Jangan kuatir,masih di pulau ini kok!”

 

Oh, dia mau mengambil Soft Drink dulu…kenapa dia santai sekali?

 

“Nah…mumpung ada kalian di sini, kalian bisa membantuku?”

 

…….

“HAH?!

HAAH?!?!

HAAAAH?!?!?!”

Aku, Brahms, dan Eddie hanya melongo.

 

10 Menit Kemudian, kami telah mengangkut semua peti Soft Drink yang ada.

Sekarang kami berada di sebuah mobil, yang (katanya) akan mengangkut kita ke tempat pesta.

 

“Hei…KITA INI DANCER, BUKAN JURU ANGKUT!!!” Eddie kelihatannya agak kesal.

“Maaf deh, aku kekurangan orang sih, hehehe~~~” Santai amat ketawanya dia.

“Tuan Daisuke! Kita sampai!” Supir mobil berteriak.

“Wah, iya ya. Ayo kita bongkar muatannya! Hei, kalian bertiga mau membantu aku lagi?”

“HAH?!

HAAH?!?!

HAAAH?!?!?!”

Lagi – lagi kami bertiga melongo.

 

“Uhh…berat amat sih peti ini?!” Aku mengeluh, sambil mengangkat peti itu.

“Well, buat kamu pasti berat, tanganmu kurus sih hehe~~” Eddie sedikit menyindirku.

“Udah, anggap saja latihan tangan untuk melakukan trik Windmill…biarpun ini memang berat…”Brahms mencoba menghibur,tapi kelihatannya tidak berhasil.

Ternyata kita bertiga sama nggak kuatnya…” Kami bertiga mengeluh bersamaan.

 

Ya ampun…udah bekerja sebagai kuli, 10 menit lagi kami harus mengadakan pertunjukkan. Nasib, nasib…tanganku pegel nih…

 

“OK, ini aku beri briefingnya.” Briefing? Hei, kita tidak sedang menjadi tim SAR di sini!

 

Dari jaketnya, dia mengeluarkan sebuah denah.

 

“Ini denah daerah pertunjukkan kita. Lihat kolam ini? Kita akan memulai pertunjukkan kita di sana.”

“Jadi, di tengah kolam itu ada sebuah platform untuk melakukan pertunjukkan?” Brahms menyahut.

“Benar. Tapi hati-hati. Jatuh sedikit saja kalian pasti akan basah kuyup. Tapi mungkin itu tidak akan terjadi, platformnya lebar kok!” Daisuke menjelaskan.

“Lagu apa yang akan dimainkan?” Aku bertanya.

“Lagu dari artis lokal M. Street, One For Me.” One For Me?! Wah, ini lagu kesukaanku dulunya! Kalau begini mungkin aku bisa jadi bintang acara!

“Argento, kamu kelihatannya senang. Ada apa?” Eddie menyadari reaksiku.

“Oh, nggak! Nggak ada apa-apa kok!”  Aku mencoba menyembunyikan kegembiraanku.

 

“Ya sudah! Apa kalian siap!”

“Tentu saja!” Kami bertiga menjawab

 

Dalam hati, aku mengatakan sesuatu yang sering kukatakan sebelum berdansa waktu aku memulai karirku.

 

HEAVEN OR HELL, LET’S ROCK!!

 

“Dan, marilah kita sambut…

Master acara ini, Daisuke-san, dan 3 dancer pendukung!

Dari kiri ke kanan: Brahms, W.I.C.K.E.D., dan Argento!” Pembawa acara menyebut nama kami.

 

Sekarang kami berada di tengah kolam. Aku tak menyangka tensinya sehebat ini.

 

“Hei, Argento! Kamu melamun? Lagunya akan diputar!” Daisuke memperingatkanku.

 

Aku langsung mengambil posisi.

 

Yeah~ Yeah~ No~ No~
I know
,… you’re the one
geudae gieoge nameun saram
,…

Ini dia! Lagunya dimulai!

 

Aku melangkah ke depan, melakukan gerakan awal. Aku melakukan gerakan dasar sampai 5 kali. Setelah itu aku maju dan melakukan giliran FreeStyle ku, bergaya seperti menembak seseorang…entah kenapa para penonton panic melihatku.

 

“Kyaaa~~~Argento menembak kepadaku~~~duh, ganteng amat ya~~~!!”

“Eh, nggak, dia nunjuk aku! Aku kan pasti tipenya, cantik gini!”
“Siapa bilang, enak aja!”

 

My my…sepertinya begitu pertunjukan ini selesai, aku harus cepat-cepat ke pelabuhan atau mereka akan beraksi seperti zombie di film “The Evil Residence’s”…

 

Waktu terus berlalu…

Wicked melakukan FreeStyle dengan gaya pura-pura jatuh,

Daisuke melakukan FreeStyle dengan gaya rapper,

Sedangkan Brahms melakukan FreeStyle menghadap ke belakang, seakan bergaya memelas.”

 

Cham eoryeoun ildo manhassjyo jichigehan. Seul peumdo~~~
Yeongweon halgeoran mideumeuro ireohge~~~ Gyeon dilsu isseo~~~

 

Sudah mau memasuki chorus. Berarti kita sebentar lagi harus memberikan gaya terhebat masing-masing. Itu patokan berdansa di Audition City.

 


I know you are
, the one for me! Naege, gareu chyeojun
Geudae sarangeuro, bicidoego sipeun naemam. Algo iss gessjyo

 

Pertama, Brahms melakukan ‘Finish Move’-nya, seperti yang biasanya disebut dancer lain.

Pertama, dia berjalan mundur, lalu melompat dan merayap seperti cacing, dan berikutnya melakukan somersault…

 

Astaga, ini gerakan dengan tingkat kesulitan tinggi:

 

Moonwalk Worm Somersault!

(ZERO’s Side Note: Somersault adalah D8, dgn key 782…kayaknya :D

Moonwalk juga D8 dengan key 167, sedangkan Worm adalah gerakan khayalan gw sendiri :D

Bayangin saja cacing merayap melompat, seperti Scotty 2 Hottie di SmackDown.)

 

Lalu Daisuke dan Wicked melakukan gerakannya juga.

Wicked melakukan Double Windmill,  sedangkan Daisuke melakukan Mourning before the Break.

 

Gila, gerakan sulit semua! Wah, aku harus memikirkan dengan cepat atau---

 

I know, you are, the one for me. Naege gareu chyeojun.
Geudae mideumeuro nan gateun jarie hangsang, seoiss eulgeyo
I know you’re the one

 

Gawat, chorus mau selesai! Aku harus cepat memikir~~~

Ah, ya ada! Gerakan yang aku pelajari sewaktu melawan Clubber-Class dulu!

Pertama-tama, aku melakukan Top Rock dulu.

Kulangkahkan kaki kanan ke depan, lalu kaki kiri. Berikutnya kaki kanan ke kanan, dan kaki kiri ke kiri. Kaki kiri kulangkahkan ke belakang, lalu kaki kanan kulangkahkan ke depan. Setelah itu aku melangkah ke kiri, ke belakang, dan ke kanan. Aku langsung melompat menjatuhkan diri, kusanggahkan  tanganku ke lantai, dan kuputarkan badanku. Lalu kutumpukan kepalaku ke lantai dan memutarkan badanku sekali lagi. Trik ini bernama:

 

Windmill Headspin!

(ZERO's Side Note: Gerakan untuk Windmill adalah D4: 8864

Sedangkan gw ga tau caranya ngelakukan Headspin, itu gerakan Finish Move sih XD

Mourning juga maksudnya mengheningkan cipta, D8 tapi gw lupa gayanya ^^a)

 

Hebat! Kalian semua hebatt!!!”

“Kyaaa~~~Brahmsss~~~~Argentooo~~~~KYAAA!!!”

 

Hebat sekali euforia mereka!

Aku tak menyangka, kemampuanku berdansa dapat menghibur mereka!

Hebat! Aku tak menyangka aku sehebat ini!

 

Waktu berlalu…musiknya telah habis.

Kami pergi meninggalkan tempat pertunjukan dan pergi ke pelabuhan utama.

 

“Wah, kita hebat! Penonton benar-benar berteriak keras!” Daisuke kelihatannya senang.

“Betul! Sudah lama aku tidak merasa seperti ini!” Eddie mengiyakan.

“Tapi…sebaiknya kita harus lari.” Brahms berkata.

“Heh? Kenapa? Seenggaknya minum kopi du~~~” Aku bertanya, tapi keburu diinterupsi.

“Soalnya sepertinya mereka mulai mengejar kita. Tuh.” Brahms menunjuk ke sebuah arah.

 

Di sana, beberapa orang dari pesta tadi (terutama wanita) telah mengejar kami, dan siap untuk menangkap kami. Kelihatannya mereka masih histeris terhadap kami.

 

“HAH?!

HAAH?!?!

HAAAH?!?!?!”

Daisuke, aku,dan Eddie…melongo berbarengan.

 

“Nyalakan mesin kapal! NYALAKAN MESIN KAPAL!!!” Perintah Daisuke.

 

Sesampainya di pulau utama, kami bernafas lega. Ternyata mereka tidak mengejar kami. Kalau dikejar, kita sekalian saja mengadakan kompetisi jet ski.

 

Sesampainya di pelabuhan pulau utama, kami berbicara sejenak.

 

“Kalian ada rencana setelah ini?” Kata Daisuke.

“Nggak.” Aku, Brahms, dan Eddie menjawab bersamaan.

“Aku sendiri setelah ini akan kembali ke villa…setelah keadaan tenang, tentu saja,” Daisuke menyahut.

“Hei, bagaimana kalau kita pergi ke Hot Flames Bar? Makanan dan minuman di sana enak lho, sekalian sedikit membuang waktu.” Aku mengusulkan.

“Usul yang bagus! Aku suka kari di sana kemarin!” Daisuke mengiyakan.

“Kalau begitu kita ke sana yuk! Aku haus nih!” Keluh Eddie.

Kami berjalan 10 menit menuju Bar, menggunakan taksi (Daisuke yang bayar, tentu saja. Dasar orang kaya).

 

KRIINGGG~~~

“Selamat datang! Eh, Argento yang kemarin ya~~~?” Silvia menyahut dengan suara khasnya.

“Hehe. Oya, nih aku membawa 3 tiga tamu dari acara barusan.” Aku menjawab.

“Masaaa~~~? Mana, mana?~~~HAH?!” Silvia terlihat kaget. Ada apa ya?

“Eh, Silvi?!” Eddie berkata, dan kelihatannya kaget juga.

“Kalian sudah saling kenal?” Daisuke berkata.

“Dia ini pacarku lagi!” Eddie dan Silvia menjawab berbarengan.

 

… Aku, Brahms, dan Daisuke terdiam lagi.

 

“HAAH?!

HAAAAH?!?!

HAAAAAAH?!?!?!”

 

Chapter 2, End.

To Be Continued In Chapter 3.

Trivia:

Top Rock - Gerakan yang diperlukan seorang breaker untuk mengawali setiap sesi gerakan.

Windmill - Istilah breakdancer untuk gaya yang disebutkan di atas.

 

Credits goes to HGO-ArdiaZ-, which is an actual breakdancer^^

Those Silver Pages, Chapter 3

 

 

Chapter 3:

A full moon in the middle of the night shone the hell on earth with a victorius blessing.

 

Sejak pertunjukkan pertamaku yang sukses besar di Coconut Island, aku bekerja di Hot Flames Bar…sebagai pencuci piring. Yah…Silvia kesusahan mencari orang sih, sedangkan pacarnya nggak mau menjadi pencuci piring. Jadi…apa boleh buat. Toh, aku juga perlu tempat kerja, sekalian mencari tempat tinggal sementara.

Sekarang di Hot Flames Bar terdapat 3 orang; aku, Silvia dan Eddie…yang sama sekali nggak kerja. Yah, aku tahu, bagi kalian duniaku sekarang ini merepotkan,tapi aku senang kok.

 

Oya, Dancer ID-ku sekarang telah mencapai LVL 14, Eddie tetap 8, Daisuke telah mencapai 12, sedangkan Brahms telah mencapai LVL 16…akan segera kususul!

 

Ngomong-ngomong, Daisuke dan Brahms masih sering berkunjung ke sini. Biasanya mereka mengajak aku atau Eddie mengikuti dance event, dan 1 orang harus tinggal di bar untuk menjaga Silvia. Biasanya sih Eddie-lah yang berjaga di bar; kalau dia memang niatnya menjaga bar sih. Kurasa, dia cuma pingin dekat Silvia saja, atau mainin game kesukaannya, Zone Of The Edgers, yang baru dibelinya untuk konsol game portablenya.

 

Bagaimanapun, lama-lama aku bosan juga dengan rutinitas ini. Tim yang aku, Daisuke, dan Brahms bentuk sudah cukup kuat untuk memenangkan hampir seluruh event lokal di sini. Aku perlu tantangan!

 

Sebuah hari yang cerah dimulai lagi. Hari yang membosankan. Seperti biasa, sehabis berganti pakaian kerja aku pergi ke meja bartender, dimana Silvia telah bersiap untuk membuatkan aku dan Eddie sarapan.

 

Ada pemandangan aneh hari ini. Tumben amat Eddie bangun pagi?! Biasanya juga habis sarapan tidur lagi?!

…Ah,jangan dipikirin. Lebih baik aku cepat-cepat meminta sarapan ke Silvia, keburu direbut Eddie.

 

“Hoahhhmmm~~~Silvia, bisa buatkan aku kopi seperti biasa? Aku benar-benar kecapekan kemarin…” Aku mengatakan dengan malas.

“Aku juga ya Sil-chan~~~minta mi kuah bakso dong, semangkok sama~~~” Eddie berbicara kepada Silvia, tapi keburu diinterupsi sama dia.

“Kerja dulu, baru makan! Kamu ini~~~ini bukan komik samurai dimana salah satu tokohnya cuma numpang makan dan tidur, tahu~~~!” Masih dengan suara khasnya, Silvi sedikit memarahi Eddie. Rasain lu! Hehehe…

“Eeehhhh?!?! Tapi aku diundang Brahms beberapa jam lagi untuk mengisi acara BEAT UP-nya!” Eddie merajuk.

“Eh? Jadi itu sebabnya kamu bangun pagi? Mau BEAT-UP?”

“Ya! Ini kan keahlianku, kamu juga tahu kan?”

“Permisi Silvia…kamu tahu maksud dibalik fenomena sekali seabad ini?” Aku sedikit menyindir Eddie.

“Oh, tentang BEAT-UP? Yah, begitulah…kalau ada even ini, dia 200% pasti ada deh. Dia lebih suka regulasi dalam even macam ini sih…” Silvia menjawab.

“Hee…aku  juga pernah ikut kompetisi BEAT-UP, biarpun langsung kalah dalam penyisihan…” kataku.

“Makanya, doain menang nih! Hari ini ada hadiah besar!” Eddie menjawab…dengan muka yang impossible. Masa muka yang biasanya ngantuk begitu, hari ini jadi serius sekali?!”

 

KRINGGG~~~ Bunyi lonceng bar berbunyi. Brahms datang.

 

“Hai semua!” Brahms menyapa.

“Lho, kok lebih cepat dari jadwal? Ada apa?” Eddie bertanya.

“Eh, sini deh~~~Psssttt psssttt psssttt~~~” Brahms membisikkan sesuatu.

“Hah?!?! Single terbaru Yui keluar?!?! Dan ada bonus komik BREACH terbaru kalau beli sekarang?!?!”

“Sori Sil-chan, tapi aku harus cepat! Ayo Brahmssss!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

“Eh tungg~~” Brahms diseret Eddie…sampai keluar Bar.

 

Ada keheningan sejenak antara di bar setelah kejadian tersebut.

 

“Sialan…padahal baru saja aku ingin memintanya membawakan komik BREACH itu intukku…” Silvia memulai pembicaraan, sambil memukul meja.

Karena kamu ada di sini, bagaimana kalau kamu membantuku menjaga Bar, Argento?”

“Boleh saja…Toh hari ini Daisuke seharian ada di-villanya, belajar untuk ujian…”

 

Karena aku selalu ingin mengetahui Silvia lebih jauh, aku mulai mencari topik pembicaraan yang bagus.

 

“Err, Silvia…kamu sama Eddie sudah sejauh apa sih? Kok kayaknya lengket banget?” Aku mengatakan dengan gugup. Wajar, ini pertama kalinya aku berbicara dengan seorang wanita secara berdua saja.

“Eddie kalau nggak salah sih pacarku dulu. Tapi orangnya berantakan gitu, jadi ya~~~aku putusin ajah, hehe…” Enteng bener nada bicaranya…tunggu dulu!

 

“…Kalau nggak salah? Masa’ kamu lupa kalau kamu pernah pacaran dengannya?”

“Huh! Aku aja lupa kapan kami jadian, hehe~~~~”

 

…menyeramkan. Untung aku lahir sebagai Argento.

 

*Trivia:

 

Zone Of The Edgers adalah plesetan dari game PS2 berjudul Zone Of The Enders (dari KONAMI). Di real, si om suka game beginian...

 

Seperti yang sudah bisa kalian duga, BREACH adalah plesetan dari BLEACH, sebuah serial manga dan anime yang terkenal.

 

“KRINNGGG~~~~”

Lonceng pintu bar berbunyi.

Hari sudah siang, tapi bar ini masih sepi. Hanya terlihat 4 orang pelanggan dan pengunjung yang baru datang itu yang berada di bar. Empat orang itu berisik sekali, tapi untung juga sih mereka menghabiskan semua minuman yang dipesan. Carlsberg, Jack Daniel’s, Tequila, Vodka…aku aja hafal!

 

“Pesan satu nasi kari ya! Minumnya Carlsberg saja.” Ujar orang yang baru datang itu.

Kuperhatikan ada sesuatu tergantung di bajunya. Kelihatannya seperti Dancer ID…coba kita lihat…

 

“Fuzz ‘Hellfire’ Jordieff:  Clubber-Class Dancer, LVL 17”

 

WOW! Levelnya bahkan lebih tinggi dari Brahms!

Kuperhatikan orang itu, memang terlihat seperti dancer beneran. Dia memakai jaket kulit coklat dan syal bermotif garis-garis. Dia juga memakai celana hitam ketat ala skater. Memang terlihat sekali aura dancer-nya.

 

“Ah, ini~~~” Silvia memberikan pesanannya.

 

Sepertinya orang ini menarik juga. Mungkin aku bisa menanyainya bagaimana cara agar bisa menjadi seperti dia…

 

*Trivia:

Fuzz sendiri plesetan dari Fazz, karakter utama di game Hoshigami: Running Blue Earth (PSX).

Plesetan ini dilakukan karena permintaannya untuk menjaga identitasnya.

 

“Oh? Kamu dancer Advanced Class?” Orang itu menanyaiku begitu setelah aku memberitahu identitasku dan memperlihatkan Dancer ID-ku.

“Yah, begitulah…tapi sebagai Advanced Class aku cukup miskin. DEN saja aku cuma punya 40000…”

“Ah, bagaimana kalau ikut denganku hari ini? Aku tahu satu acara ini yang bisa membantu keuanganmu.”

“Benar nih? Semoga cukup nih untuk membantu bar ini juga keuanganku. Kapan?”

“Malam nanti, waktu Dark Hour.”

“Dark Hour?” Aku bertanya, karena belum pernah mendengar istilah itu.

“Itu istilah kami untuk menyebut tengah malam di kota ini, bukan seperti yang kamu dengar dari game lho…”

“Dari game? Eh, kamu main Persona 3 juga?” Sekarang aku tahu darimana dia dapat istilah ini.

“Begitulah. Kamu sampai man~~~”

“Sorry, tapi bar ini nggak nerima otaku yaaa~~~” Silvia tiba-tiba menyela.

“Ah, maaf…anyway, Argento. Nanti malam datang ya? Akan aku jemput di sini bersama temanku kok!”

 

Dari percakapam singkat ini,aku tahu hari ini akan sangat panjang!

 

*Trivia:

 

Otaku: Penggila sesuatu secara berlebihan, macam Anime Otaku, Train Otaku, Manga Otaku, dll.

 

Dark Hour adalah fenomena yang menjadi setting dalam game SMT: Persona 3 (PS2), dumana ketika jam 12 malam, dunia akan berubah 360 derajat menjadi mendekati neraka.

 

Malam hari telah tiba.

Untung aku mendapat ijin dari Silvia, yang lagi good mood setelah dibelikan Single Rolling Star-Yui oleh Eddie. Sekarang Silvi lagi bergelantungan di tangan Eddie tuh… Dasar mereka…kalau memang saling suka, bilang aja…

 

Anyway, enough about them.

Sekarang aku menunggu Fuzz di depan pintu bar.

Sudah jam 10 malam. Dingin juga udara di sini, dan bulan sedang bersinar terang.

Aku bisa mengerti dengan suasana bulan sebagai Dance Stage, tapi masa’ ada acara dance malam-malam begini?

 

GRRRNGGGG…..GRRRRNNNGGGGG!!!!!

 

Di saat aku bingung, aku dikagetkan oleh suara sebuah motor besar.

 

“Yo! Ini aku nih!” Fuzz menyahut dari motor. Gila, besar banget itu motor!

“Mana temanmu?” Aku berpura-pura tidak kaget.

“Oh, Erica? Dia sebentar lagi---“

PSIUUU~~~~

 

Pembicaraan kami diinterupsi oleh suara bising seperti peluru.

 

“Ya ampun Erica, lain kali bisa nggak sih lebih sopanan dikit?”

 

TAK!! Setelah ‘Erica’ mendarat, aku memperhatikan dia sebentar.

Ternyata perempuan. Rambutnya berwarna emas, diikat ke belakang. Dia memakai baju sleeveless dengan dasi yang dipasang di lehernya, lengkap dengan celana pendek, yang benar-benar kelihatan ‘punk’. Tapi itu tidak membuatku heran. Yang membuatku heran justru benda di bawahnya…Skate Board?!

 

“…Hmph.” Dia membalas Fuzz dengan dingin.

“Ah, Argento…ini temanku yang kubicarakan tadi siang.”

“Apa kabar?” Erica menyapa.

“Apa kabar, Eerieca?” Aku menyoba bercanda

 

BUAK! Kepalan tangan yang manis mendarat dengan kasar di wajahku yang ganteng ini (halah).

 

“AYO CEPAT PERGI!!!” Erica meninggakan kami duluan dengan marah. Ya ampun, dia tidak bisa diajak bercanda ya?

 

Aku langsung duduk di bangku belakang sepeda motor Fuzz.

 

“Sebaiknya jangan ajak dia bercanda deh…itu nenek sihir emang galak…”Fuzz memperingatkanku. Sebaiknya aku tidak memainkan nama orang lagi deh…

 

“Tue Re Se Croa Riou Tue Se~~~” Sesuatu berbunyi di dekatku.

“Ah, HP-ku rupanya! Ada SMS ya? Tunggu sebentar Gen~~” Fuzz berkata.

 

Aku ikut membaca SMS itu. Isinya:

 

“GRROAARRRRR!!! Siapa yang nenek sihir hah?!?! Awas ya, sampai “Back Alley” aku bunuh lho kamu, Fuzz!!!”

Pengirim: Nenek Eerieca.

 

*Trivia:

 

Eerieca adalah plesetan dari Erica. Arti dari kata ‘Eerie’ sendiri dalam bahasa Inggris berarti ‘menyeramkan’. Makanya dia dipanggil nenek sihir oleh Fuzz.

 

Ring Tone dari HP Fuzz adalah ‘Fonic Hymn’ pertama,  yang menjadi salah satu lagu di game Tales Of The Abyss.

 

Skate Board yang dinaiki Eerieca adalah referensi dari anime Eureka seveN, dimana salah satu karakter utamanya bernama Eureka (sekarang kalian paham kenapa gw manggil dia Eureka?^^).  Dalam beberapa poin, konsep namanya pernah gw balik menjadi Aurica, Eurica, demi melakukan plesetan ini. Tapi, karena satu alasan dan yang lain…

 

10 Menit kemudian, kami sudah sampai di Back Alley…secara terpaksa.

 

“Hii!!!! Tolong Gen!!! Si Nenek mau menggal leherku!!!” Fuzz berteriak minta tolong kepadaku, karena dia ditodong pisau dan dicekik oleh Eerie---eh salah, Erica…

“Ngapain juga? Toh,aku baru bertemu denganmu hehehe…” Aku sedikit bercanda.

 

 

Setelah 3 menit, Erica melepaskan cekikan mautnya itu…

 

“Sebenarnya kita ngapain sih di sini?” Aku bertanya kepada Fuzz.

”Ohh, hegghhh….kita di sini, heghhh….setiap malam ada, heghhhh….artis kota muncul, heghhh…” Sepertinya aku tidak perlu bertanya kepadanya..biarkan dia mendapat penyembuhan dulu.

 

 Lalu Erica menjawab:

 

“Intinya gini…setiap malam, para Selebritis kota yang tergabung dalam kesatuan NPC- NeoPureChaos, selalu mengadakan kontes di berbagai bagian kota di sebuah ajang bernama “Battle Party”. Kalau mau ikut, kita pertaruhkan dulu sejumlah uang. Kalau kita menang, kita akan dapat sejumlah uang.”

 

“Oo,begitu…tapi, nama mereka serem amat…” Aku sedikit ‘mengerti’…

 

“Eughh…itu karena mereka tidak pernah gagal dalam mengatur gerakan mereka dalam irama musik---mereka tidak pernah kehabisan gaya dan tidak pernah terpeleset…uhuek,uhuek…”Fuzz bangkit dari kubur  (?) dan menjawab pertanyaanku.

 

“Intinya, kita akan membentuk tim untuk mengalahkan mereka?” Itu kesimpulanku.

“Benar,tapi kita kurang dua orang…”

 

Disaat kami memikirkan langkah selanjutnya, lewatlah dua orang di dekat kami

Seorang pemuda dan seorang pemudi yang seusia dengan Daisuke.

 

“Tapi Chang, aku kan lagi sibuk...kita cari Ballroom yang sepi besok saja…”

“Benar  juga ya, aku juga belum makan…”

“Gini aja, bagaimana kalau kita cari kafe dulu baru pulang?”

‘Asyiikk!! Arnold baik deh~~”

 

Semula kami bermaksud mengacuhkan kedua orang itu, tapi tidak jadi setelah melihat Dancer ID yang tergantung di baju mereka…Dancer ID?

 

Kami terdiam sebentar…

 

“…………………………….”

 

Lalu kami bertiga berkata secara serempak:

 

HWEHEHEHEHEHEHEHEHEHEHEHEHE!!!!!!!!!!!!!! SERBU BOSSSSS!!!!!!!”

 

*Trivia:

Maksud dari ‘tidak pernah terpeleset’ adalah tidak pernah miss. Paham?^^

 

 “Auuuhhh, kenapa kami harus ikut kalian????” Arnold mengeluh.

“Kami kan kekurangan orang untuk Battle Party, jadi kami mencoba mengajak dengan ramah dancer yang lain…tapi mereka nggak mau~~~jadi, karena frustasi, kami ambil kalian secara paksa, nggak apa-apa kan? Hehe~~~”Bujuk Erica.

 

“Battle…party? Apaan itu?” Kata Arnold dengan suara terbata-bata.

 

Ya. Kalian nggak salah baca. Bujuk ERICA.Sejak kapan dia jadi sweet-talker begitu?!?!

 

“Menyeramkan…” Kata Fuzz.

 

SLASH!

 

…dan dia terkapar lagi karena tiba-tiba keluar Excalibur dari tangan Erica yang disabetkan ke Fuzz…tunggu dulu, EXCALIBUR?!?! Mulai kapan?!?!

 

“Nah, kalian mau ikut kami ngga?~~~~Untungnya aku bagi deh lebih besar~~~ Bujuk Erica, sambil mengacungkan Excalibur kea rah sejoli itu. Sesaat, aku bisa melihat dia mengeluarkan aura lain, dimana rambut emas panjangnya diikat ke belakang, sehingga kelihatan lebih pendek…

 

“I…iya ndoro…” Sepasang sejoli itu pasrah.

 

*Trivia:

Referensi Fate stay night (Visual Novel) berada di sini. Temukan sendiri ya~~~~

 

Pukul 11:50 P.M.,

Back Alley.

 

Di daerah ini, aku melihat dancer-dancer lain berkumpul, bersorak, dan bercengkrama satu sama lain, menunggu datangnya para selebritis dari NPC. Karena kami pikir, masih 10 menit lagi, dan kami merasa lapar, kami singgah di salah satu warung mi di kaki lima.

 

“Kenyanggg~~~~~” Kami semua berkata bersamaan setelah satu mangkok mi yang enak kami habiskan.

 

Jadi begitu ya? Baru tahu ada acara seperti ini,” ujar Arnold, yang baru mendapat alasan detail dari penculikannya

“Kami bantu deh, jangan kuatir! Tapi turunkan Exca-blablabla itu ya~~~” teman Arnold, yang dia sebut Chang meneruskan.

 

“Nggak usah kuatir, nggak akan aku cabut kecuali kalian kabur kok, hihihi~~~” balas Erica, kali ini dengan nada suara mirip Silvia…

 

“Tapi aku kan nggak kabur, kok aku ditebas?!?!” Protes Fuzz.

“Soalnya KAMU  MANGGIL GUE NENEK SIHIR, TAUUU?!?!?!” 180 derajat Slam Dunk dari Erica dimuntahkan.

 

“Ah, permisi, tapi kurang 2 menit lagi dimulai nih Battle Party-nya. Jam 12 tepat ‘kan?”Kataku.

 

“Wah, iya! Sebaiknya kita cepat kembali ke Back Alley! Ayo!” Ajak Fuzz dengan nada terburu-buru.

 

Sesampainya di Back Alley, para dancer telah berkumpul menanti NPC.

Kami memutuskan menunggu di salah satu sudut Back Alley, bersandar di satu sisi tembok.

 

BANG!

 

Tembok di sebelah kami meledak, dan semprotan confetti serta alunan Hip-Hop terdengar dari lubang yang dihasilkan dari ledakan itu.

 

“Wow! Ada apa ini?!” Tentu saja aku kaget.

“Jangan kuatir, mereka itu NPC.” balas Fuzz.

“Heh?!?! Mereka lebih keliatan seperti teroris!” kata Arnold.

 

Dari sana keluar pertama-tama seorang wanita. Sepertinya, dia adalah ketua dari NPC, dilihat dari bagaimana NPC lainnya menunduk dan memberi hormat ketika dia berjalan.

 

“Selamat Datang semua! Seperti yang mungkin kalian semua tahu, namaku adalah Crazy Queen! Kalian mungkin kaget karena aku berada di sini. “

Ini karena, sebuah grup menantangku untuk Battle Party. Ingat! Setiap dancer yang kalah dalam Battle Party melawanku, harus meninggalkan kota ini secepatnya!”

 

Wow, keras sekali…

 

“Berikutnya, kami akan mengerahkan beberapa anggota kami untuk meladeni kalian. Silakan berkumpul di team masing-masing, dan bersiap! DANCE ‘TILL MORNING!!!”

 

“DANCE ‘TILL MORNING!!!” Seru para dancer yang lain.

 

Tidak sampai 10 menit, seorang anggota NPC mendatangi kami.

Pemuda yang mendatangi kami mengenakan topi aneh, berpakaian ‘frilly’, dan bercelana kulit hitam.

 

“Keliatannya kalian lumayan. Mari bertanding denganku! Namaku Nicholai.” ujar orang itu sambil mengeluarkan sebuah remote aneh dari sakunya.

 

BIIP!!!

SWUUNGGG!!!

 

Disaat kami tersadar, di sekitar Nicholai dan kami ada aura hijau.

 

“Hei, apa ini?” heranku.

”Ini alat khusus yang dipunyai NPC, yang mereka namakan Sync Sense.” Erica menjelaskan, sambil menunjuk ke remote aneh yang terdapat di tangan Nicholai.

“Pada dasarnya, alat ini mengukur ketepatan dancer di sekitarnya terhadap ritme lagu dan timing penggantian gaya.”

 

“Yah, begitulah. Selebihnya sudah dikatakan nona itu. Apa kamu orang baru di sini?” Tanya Nicholai kepadaku.

“Sudah lama sih, aku cuma nggak tahu ada acara seperti ini di tengah malam…” jawabku.

 

“Kalau begitu, bersiap saja, aku nggak akan bersikap halus lho, hehe…”

 

“Ngomong-ngomong, kita harus mempertaruhkan sejulnah uang kan? Berapa nih?” Aku bertanya.

“Ah, kamu sudah tahu peraturannya? Nih, pertaruhkan 2000 DEN, nanti kalian akan mendapat8000 DEN.” Jawab Nicholai.

 

“Ini,’ kataku sambil memberikan 2000 DEN, “jangan dikorupsi lho!”

Nggak tahu kenapa, dancer di sekitarku ini tertawa terbahak-bahak.

 

Song:  You’re Already Gone

BPM: 150

 

 

Do-
You like the way it feels
When nobody will reply-
to your questions

Do-
You like the way it feels
Whenever you ignore me
Makes me wild, makes me crazy

 

Bait pertama…sebenarnya seperti apa kehebatan NPC?

 

I-
Don’t like the things you do
Don’t like what you become
Don’t like what you do to me
You’re already gone

Feels so far away
Left me on my own
Even though you’re next to me
You’re already gone

Feels so far away
Left me on my own
Even though you’re next to me
You’re already gone

You-
You think you know it all
You think you hold the key to life
And it’s questions

But you-
You’ve got a lot to learn
Stop thinking of yourself
You’re making me lose my head
You’re already gone

 

BIP BIP!!!

 

Heh?! Sync Sense menunjukkan Perfect Sync 7x?!?!

 

Gawat nih…kalau begini juga,aku tidak akan bisa menyusul…sebaiknya langsung kukeluarkan Windmill Headspin

 

OUCH!!”

 

Gagal…bagaimana ini?

Oh, jangan nervous, jangan nervous…

 

“Tenang aja gen, kalau kita bisa melakukan Perfect Sync yang sebanding bila digabung, kita bisa menang!” Ujar Fuzz.

 

Jadinya kulakukan trik yang lain…nantinya, di akhir lagu.

 

Setelah sekitar 3 menit, sebentar lagi lagu berakhir. Aku melakukan gerakan yang paling cepat yang ada dipikiranku.

 

Aku melakukan Moonsault ke belakang dua kali, melakukan Top Rock 1 detik, lalu melakukan 1 putaran Windmill. Berikutnya, setelah Windmill selesai, aku melakukan Worm Strech, memutarkan badan ke samping sekitar 3 kali, dan penyelesaiannya, aku melakukan Baby Freeze.

 

Finishing Move: Desperate Craze!!!

*Referensi FM dari Crazy Dance.

Musik selesai, dan Nicholai mengambil Sync Sense yang dia letakkan tidak jauh dari tempat kami melakukan Battle Party.

 

Mata kami semua tertuju kepada Sync Sense yang dia pegang. Turns out, kami hanya terpaut 300 Sync Point…dimana kami memimpin! Ternyata tim yang kami bentuk memang hebat!

 

“Oh well, promise is promise…nih, masing-masing 8000 DEN.”

 

Lumayan! Kalau begini caranya, seharusnya aku sudah ada di sini dari dulu!

 

“Hehe…dengan begini, minum lagi nih besok!”kata Fuzz.

“Memangnya kamu menemukan tempat yang bagus untuk nongkrong? Kok keliatannya sudah ada?” Erica bertanya kepada Fuzz.

”Kamu tahu, Argento ini bartender di Hot Flames Bar. Itu lho, bar dimana kita menjemput dia! Minuman dan makanannya enak, dan bartender cewek satunya juga manis, nggak kayak nene---UPS!!” selagi Fuzz ngoceh, dia keceplosan.

“Siapa yang nenek?” Erica bertanya dengan senyuman jahat.

“Anyway, Argento. Apa kami boleh nongkrong di sana juga? ‘Kan enak punya home-base.” Erica bertanya kepadaku.

“Boleh aja sih, ‘kan itu Bar, bukan penjara. Masa’ nongkrong di sana dibatasi?”

“Terima kasih ya. Besok pagi aku akan datang minum.” Jawab Erica sambil mengambil Skate Boardnya.

 

SYUNGG!!!

 

Rambut emasnya berkibar seiring dengan peluncuran Skate Board kepunyaannya ke udara. Tepan di depannya, di ujung gang, sinar bulan terlihat menyinari gang tersebut.

Setelah diperhatikan lagi, sebenarnya dia anggun juga, sayang sifatnya…

 

Setelah Erica hilang dari pandangan, aku tersadar dari lamunanku.

 

“Kalau begitu, kami pulang dulu ya~~” Ujar Chang.

“Kalian nggak mau ikut nongkrong di bar tempat aku bekerja? Aku menanyai mereka.

“Wah, maaf, kami sibuk. Lagian, kami juga jadi peran utama di Chapter 5 kok…”tolak Arnold dengan lembut.

“Ya sudahlah, hati-hati ya!”

 

Setelah Arnold, Chang, dan Erica pergi, Fuzz masih berada di dekatku.

“Kalau begitu, aku juga pergi. Ini nomer HP-ku dan nomor HP Erica, kalau mau minta bantuan di Dance Event atau Battle Party.” Kata Fuzz sambil memberiku secarik kertas.

 

“Makasih ya! Kutelepon deh kalau ada acara,” aku berterima kasih.

 

“Ngomong-ngomong, aku lupa bayar Carlsberg yang tadi siang. Bisa bayarin pakai uangmu dulu nggak?” katanya sambil berlalu.

 

…Sialan. Baru juga dapat DEN…

 

Chapter 3, Over.

Continued to Chapter 4.

Chapter 4

Chapter 4.

Love Mode, Fake Love, Need Love, First Love, Summer of Love, and

 

Hoahmmm…jam 7 pagi.

Capek bener nih setelah semalaman menaklukkan anggota NPC di event Battle Party kemarin.

Seperti biasa, aku bangun dari tempat tidur, menuju meja bar, dan minta dibuatin kopi sama Silvia (Eddie minta teh, by the way.)

Tapi, hari ini ada pemandangan aneh (lagi) nih…

Biasanya, Silvia memasang muka aneh di depan Eddie. Tapi, hari ini dia terlihat ramah sekali. Kira-kira ada apa ya?

 

“Eddie sayangg~~~~” Kata Silvia. Hoek.

Aku harap dia nggak kesurupan…dasar malu-malu mau…

 

“Hiii…ada setan apa sih Sil, ‘kok kamu tiba-tiba jadi begini?” kata Eddie.

“Setan? Lho, dari dulu kan aku emang sudah gini, hehehe~~~” Entah kenapa tawa kekanakannya kali ini bernada…err…buruk.

 

Kleneng….kleneng…

Sekitar jam setengah delapan, lonceng pintu bar berbunyi.

 

Tampak seorang pengunjung dengan baju serba hijau, dan celana army cargo (dengan topi bermotif army juga). Di bajunya terpampang Dancer ID bertuliskan:

 

Tommy, Clubber-Class Dancer, LVL 16.

 

Lho Tom? Kamu kok di sini?

“Hah? Maksudnya?”

Gini lho, psst…psst…psst…

“Eh? Aku baru debut di Chapter 6?”

Iya, masih kecepetan ini…

“Sori deh nyerobot, tapi bagian ini disimpen aja yah. Itung-itung buat spoiler Chapter 6, kan aku bintang utamanya, hehehe…”

Iya, iya ah! Udah, gw mau nulis lagi bagian yang bener.

“Kalau udah Chapter 6, panggil yah! See ya~~~”

 

Ya ampun Tom, tom…

Jangan nyerobot dong, mentang-mentang negara kita menerapkan budaya ‘siapa nyerobot, dia dapat’, jangan seenaknya nyerobot di fanfic gw dong…

 

Ya, I’m sorry, saudara-saudara, tapi bagian yang ini ga usah dibaca ya, ada kesalahan teknis. Yang bener bagian berikutnya nih…silakan menikmati!

 

Kling…kling…

Sekitar jam setengah delapan, lonceng pintu bar berbunyi.

 

“Haloo~~~!” sapa Silvia terdengar tidak biasa. Seperti sudah akrab saja.

 

Erica datang sendirian, menepati janjinya untuk datang dan ‘sarapan’ di sini. Biarpun, setelah mendengar apa yang dipesannya, sepertinya malah akan menjadi ‘sarap’-an…

 

“Satu botol Tequilla satu ya!” kata Erica.

 

Hah?! Pagi-pagi udah Tequilla?

Apa nggak mabuk tuh?

 

“Ehh…bener nih Tequilla pagi-pagi?”

“Ada nggak? Kalau nggak, Martini aja!” Erica mengatakan dengan suara lantang.

She’s not gonna live very long, I bet…padahal aku cuma minum kopi dan susu coklat saja (sambil makan nasi goreng masakan Silvia tentunya).

 

Selanjutnya bisa ditebak, Silvia sambil kebingungan memberikan sebotol (bener, sebotol) Tequilla kepada Erica.

 

Setelah meneguk sampai habis, dia berikutnya berteriak:

 

“WOW!! Emang ga ada yang lebih hangat daripada sebotol Tequilla di pagi hari!!!”

 

“Uhh…Erica…yang kemarin itu, kamu bener mau minum-minum di sini?” tanyaku.

“Kan udah aku bilang kemarin, gimana sih? Lagian minumannya enak kok,” dia menjawab dengan nada yang normal(?!).

Ajaib, ajaib…bener-bener nggak mabuk sama sekali?

 

“Err…Argento, kamu kenal dia?” Kok kayaknya udah pernah kenal?” Tanya Silvia.

“Iya sih…kenapa?”

“Udah kenal ya…padahal tadinya mau ngenalin ini cewek ke kamu. Habis, kamu menyendiri terus sih~~~”

“Heh? Kamu kenal dia?” Aku sedikit terkejut. Lebih terkejut daripada bayangan aku dikenalkan dengan Erica…

Yup~~! Dia teman SMP-ku dulu!”

“Hee~~~” Bener. Aku. Nggak. Nyangka. Sama. Sekali.

“Kamu kenal dia mulai kapan, Gen?” Eddie bertanya dari ujung meja bartender, masih memakan nasi gorengnya.

 

Langsung saja kuceritakan kejadian semalam, sambil menunjukkan DEN yang aku dapat dan memberikan sebagian kepada Silvia.

 

“Wah~~aku sama sekali nggak tahu lho ada event macam gitu!” Eddie kelihatan terkejut.

“Kalau ada lagi aku panggil kalian deh, toh kami kemarin juga terpaksa menculik seseorang karena kekurangan anggota tim…”

 

Oh, sudahlah, jangan nyebutin dia. Dia kan baru muncul di Chapter 5…

 

Kan ada aku, Erica-neechan! Masa lupa kalau aku juga Dancer?” Silvia menyahut. Dan, entah kenapa mendengarnya aku ingin muntah?

 

Ah iya. Sebaiknya nggak usah deh, sifatmu yang sering berbicara bahkan selama Dance Session itu bisa mengganggu konsentrasi yang lain.” ...mengganggu konsentrasi? Setuju.

 

Trivia:

Pernah baca Midori no Hibi (Midori Day’s)?

Sesi di atas adalah referensi dari 4koma (komik 4 panel) Midori no Hibi yang muncul di suatu jilid.

Di sana, ketika Seiji dan Midori memilih meminum susu coklat di pagi hari, kakak perempuan Seiji malah meminum Tequilla.

BTW, biarpun Tequilla termasuk keras, tapi di pesta para orang kaya sering disuguhkan kok…Martini juga…

 

Setelah ke-‘sarap’-an seseorang tadi, setengah jam kemudian aku dan Eddie diajak Silvia untuk pergi bareng membeli bahan makanan untuk bar. Persediaan telur dan daging kita lagi sedikit sih…tentu saja, kami hanya menjadi truk barang belanjaan. Di distrik Traficco ada banyak sih supermarket bahan makanan…juga banyak sekali butik pakaian.

 

Erica juga ikut belanja; entah parfum, aksesoris…dan belakangan Silvi juga ikutan. Dasar cewek, karena kegemaran (atau, penyakit) mereka sama, langsung deh akrab dalam waktu singkat…

 

“Agh! Berat banget sih bawaan yang ini!! Ini apa sih isinya?” Aku mengeluh sambil berusaha mengangkat satu tas belanjaan yang dibawa Silvia lagi. Jujur, aku nggak kuat; tanganku kurus sih.

 

“Itu cemilanku tahu~~~~ada Calorie Mate, ada Pizza Bun, ada Japan No.44, ada Yakisoba Dog, ada…” Seterusnya aku nggak mau denger. Aku juga nggak akan kaget kalau ada Power Berry di dalamnya…

 

“Ya ampun…snack begitu banyak, masih ditambah belanjaan Erica yang nggak kalah banyaknya…” aku mendengar Eddie mengeluh.

 

Dan selama 1 jam ke depan, aku dan Eddie masih membawa belanjaan Silvi.

Berikutnya, aku dan Eddie mendesah dan berkata:

 

“Pasti repot ya kalau laki-laki diajak perempuan belanja.”

 

Trivia:

Distrik Traficco adalah sebutanku untuk mereferensikan arena “Traffic Jam”.

 

Berikutnya, setelah satu jam berputar-putar, kami berempat beristirahat di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari sebuah butik yang dikunjungi Erica sebelumnya, di distrik Traficco Geo.

 

Dan sebuah pembicaraan dimulai oleh Eddie.

 

“Oya Sil, sebenarnya kenapa sih kamu tiba-tiba ramah? Biasanya juga lebih mirip Bale…”

 

“Emangnya nggak boleh??~~~~Terserah aku kan, EGP gitu lho kamu mau bilang apa, fufufufufu~~~~~~”

 

 

“Ada apa sih ini?” Erica bertanya.

 

“Gini nih. Itu dua orang kan setiap hari kayak anjing kucing; selalu tengkar. Yang satu galak tapi suka, sedangkan yang satunya pemalasnya minta ampun. Dulunya pernah pacaran, tapi sekarang udah agak…kacau. Tapi pagi ini, Silvia tiba-tiba menjadi agresif ke Eddie…ini nih yang bikin aku heran.” Jawabku panjang lebar.

 

“Ooo…Argento, apa Silvia akhir-akhir ini kesulitan uang?” Tanya Erica lagi.

 

“Begitulah. Dia perlu uang untuk merenovasi dapur dan interior bar. Aku dengar sih dia…” belum selesai aku berbicara, Erica menginterupsi.

 

“Ya sudahlah.”

 

Berikutnya dia mengeluarkan sebuah brosur.

 

“Ah!” Silvia terlihat kaget dengan brosur tersebut.

Aku membaca brosur tersebut. Isinya:

 

The Melancholy Enterprise Presents:

 

February Couples Event:

Violet Spring Of Love

 

Bergabunglah dalam kompetisi Couple Dance 2-bulanan ini!

Merasa yang paling romantis?

Merasa yang paling serasi?

Merasa dancing skill paling jago?

Jangan pikir dua kali, ikutilah kompetisi ini!

 

Pemenang akan mendapat hadiah sebagai berikut:

 

1.                Liburan ke Malibu bersama 6 orang termasuk Couple anda!

 

2.                Hadiah 300.000 DEN untuk juara 1, 200.000 DEN untuk juara 2, dan 100.000 DEN untuk juara 3, masing-masing untuk satu pasangan.

 

Pendaftaran ditutup 14 Februari 2010,dan GRATIS!!!

Tunggu apa lagi, cepat ikuti dan menangkan!

Pererat hubungan anda dan couple anda, dan menangkan liburan ke Malibu bersama couple anda, dan pamerkan kemesraan couple-mu kepada teman kalian di Malibu!

 

Aku sedikit terkejut melihat brosur ini.

Jadi, Silvia mau mendekati Eddie lagi dan memanfaatkannya untuk ikut Couple Competion ini dengannya?

 

Dan ditambah dengan perkataanku dimana Silvia perlu uang untuk renovasi Bar, lalu Erica memberikan brosur ini, jelas Silvia ingin uangnya saja.

 

“Eh, Gen. Apa sih isi brosurnya?” Eddie menyadarkanku dari lamunan.

 

Eddie mungkin sakit kalau melihat ini, jadi aku sembunyikan brosur itu di dalam saku dan membuat suatu alasan (kuno):

 

“Ini undangan untuk Couple Dance Contest yang akan diadakan 10 hari lagi. Silvia sebenarnya berperilaku…err…aneh ke kamu karena dia pingin ikut kompetisi dengan kamu,” aku berkata sambil mencoba tidak membocorkan apa yang aku tahu.

 

Wajah Silvia terlihat sedikit muram.

 

“Lha, terus apa hubungannya dengan kesulitan duit-nya Silvia?”

Gawat.

Kalau dia sampai tahu bisa benar-benar gawat.

Aku tidak boleh membiarkan teman pertamaku sakit hati.

 

“Errr…di sini tertulis biaya masuk turnamen yang lumayan mahal. Tapi kalau menang lumayan, soalnya Silvia bisa mengajak kita semua ke Malibu untuk liburan, sebagai hadiah kompetisi ini.”

 

Lagi-lagi aku berbohong.

Maafkan aku, betul-betul, maafkan aku.

 

Silvia terlihat sedikit tercengang, tapi tenang kembali beberapa saat kemudian.

 

Diantara aku, Erica, dan Silvia tercipta keheningan. Beberapa saat kemudian, keheningan itu terpecah oleh Eddie.

 

“OK, Sil! No problemo! Kalau cuma segitu sih kecil!!!”

Eddie…

“Lagian, aku juga udah lama nggak ke Malibu sama Silvi karena biayanya mahal, jadi apa salahnya?”

 

Silvia tidak menjawab.

 

HP-ku berbunyi. SMS. Dari Erica.

 

“Kita perlu bicara nanti. Bisa temani aku ke Cineplex nanti jam 7 malam?”

 

Dia pasti mengirimnya diam-diam.

Aku sudah tahu apa yang mau dibicarakannya. Aku juga akan protes kepadanya nanti malam.

 

Setelah aku selesai membaca SMS dari Erica, Silvia beranjak dari kursinya dan berkata:

 

“Err…bisa kita kembali ke bar sekarang? Aku harus menyiapkan bahan makan malam nanti, dan juga bahan makanan untuk bar…”

 

Audition City, Cineplex Mall and Movies.

Sunday, 4th February 2010,

07:00 pm.

 

Ladybug Coffee Shop, inside of Cineplex.

 

“Erica…jelaskan secara rinci yang tadi siang,” aku berkata dengan nada sedikit marah.

 

“Tidak perlu. Kamu ‘kan sudah tahu.” Erica menjawab dengan dingin.

 

“Bukan itu maksudku…KENAPA KAMU, YANG MERUPAKAN TEMAN LAMANYA, LANGSUNG MENCAMPURI URUSANNYA BEGITU SAJA,DAN BERANI MERUSAK RAHASIANYA?!” seumur hidup, baru kali ini aku merasakan ingin memukul

wanita! Aku benar-benar tidak tahan!!

 

Seluruh pengunjung Ladybug Coffee melihat kami berdua. Biarpun begitu, kami

sepertinya tidak merasa malu sedikitpun.

 

“Dengarkan dulu aku. Aku justru berbuat ini demi dia.”

“Oh ya? Dengan menipu Eddie dan MENEKANKU UNTUK BERKATA BOHONG?!?!”

“...terpaksa. Melihat mereka, aku merasa melihat diriku sendiri dulu.”

“Memangnya aku peduli dengan masa lalumu?! Toh aku juga baru---“

 

PLAK.

Dia menamparku.

 

Diam dan dengarkan. Aku sengaja membiarkan Silvia seperti itu. Aku yakin, setelah kompetisi itu selesai mereka akan suka beneran, dan kembali seperti masa SMA dulu…”

 

Aku terdiam.

Seperti dulu? Jadi, mereka awalnya memang sangat mesra.

Seharusnya, akulah yang ikut-ikutan dalam urusan mereka. Aku orang luar.

…Tapi mereka adalah teman pertamaku. Tidak mungkin aku akan mengabaikan mereka begitu saja.

 

“…Baiklah. Aku mengerti. Jadi, maumu apa?

“Aku ingin, kamu menjadi pasanganku di Violet Spring Of Love, untuk mengawasi mereka.”

“HAHHH?!?!”

 

“Jangan ge-er dulu, tugas kita hanya mengajari Silvia arti mencintai seseorang. Sudah lama sekali…dia tidak mendapatkan ‘cinta’. Baik dari Eddie, baik dari keluarganya…”

“Hm? Keluarganya?” aku sedikit heran, tapi sepertinya aku sudah tau apa yang dibicarakan berikutnya.

 

“Keluarganya telah meninggal. Dua-duanya.” Ternyata benar.

 

“Ayahnya dinyatakan hilang pada suatu kecelakaan di Greenbush Town, beberapa mil dari Audition City. Ibunya bunuh diri dengan melompat ke jalur kereta di Audition Metro Station”. …aku terdiam.

 

“Mereka meninggal…tanpa meninggalkan kesan baik sekalipun bagi Silvia. Ayahnya meninggal tanpa bisa menghabiskan masanya dengan Silvia lebih lama. Sedangkan ibunya, hampir tidak pernah bicara kepadanya karena kesibukannya. Karena itulah, dia memutuskan berhenti untuk mencintai seseorang…dan karenanya, ketika dia membutuhkan cinta, dia selalu membuat reaksi palsu, agar dia setidaknya bisa merasakannya.” Erica berceramah panjang lebar.

 

“Argento,” Erica berhenti sebentar sebelum meneruskan perkataannya.

“Bantu aku membuatnya mencintai sesuatu secara sungguh-sungguh sekali lagi…bantu aku melihat dirinya yang supel dan tulus bergaul, seperti aku melihatnya sewaktu SMP dulu.”

 

Erica…ternyata di balik sifat kejam-mu itu, kamu benar-benar peduli terhadapnya.

…dan ketika kukira aku sudah mengenal Silvia. Ternyata dia sama saja denganku, tidak pernah merasakan harmoni hidup, dan selalu berharap balasan ketika mendekati seseorang.

 

“Aku mengerti, Erica. Aku ingin melihat reaksi tulus yang kamu bicarakan. Mari, kita bekerja bersama-sama!”

 

“Terima kasih. Besok kita berunding di Bar, akan kuajak Fuzz juga.”

 

Hot Flames Bar

Monday, 5th February 2010

10:00 A.M.

 

Pagi yang cerah.

Seperti yang dikatakan Erica, hari ini aku, Erica, Fuzz, Eddie dan Silvia berunding untuk mencari tempat latihan untuk Violet Spring Of Love.

 

“Mencarikan tempat latihan?” Silvia terheran.

Sepertinya dia sudah melupakan kejadian kemarin, biarpun aku nggak begitu yakin.

Betul. Kata kalian sendiri, kalian ‘kan sudah mendaftar. Aku dan Erica bantu nyariin deh...” saranku.

“Bagaimana kalau di Coconut Island kepunyaan Daisuke? ‘Kan sejuk, dan fasilitasnya lengkap!” Eddie menyarankan.

“Aku sudah menelepon Daisuke tadi pagi, katanya Villa-nya diperlukan untuk acara lain,” jawabku.

“Hmm...kalau di Back Alley?” saran Fuzz.

Kamu lupa kalau siang hari, Back Alley jadi tempat nongkrong para preman?” Erica menolak.

“Ah, iya juga ya...”

 

“Hmm...tunggu sebentar, aku telepon Marquis dulu.” Erica memotong, sambil mengeluarkan HP-nya dari saku celananya.

Marquis?” aku bertanya.

Oh, dia sumber informasi kami dalam menemukan lokasi Battle Party. Dia mengetahui segala sudut Audition Town ini, karena keluarganya salah satu penduduk asli kota ini.” Fuzz menyahut.

“Hee...dia bisa ngasih saran tempat yang bagus buat mojok nggak? Hehe...” canda Eddie. Dasar...

Aku malah sering minta sarannya ketika aku ingin nyari tempat mojok bersama pacarku, Reis-chan. Hehehe....” jawab Fuzz. saiki, jamane jaman uedannn...wong enom, seneng mojokannn......

 

Ah,” sepertinya Erica sudah selesai menelepon ‘Marquis’.

“Kenapa?” Fuzz bertanya.

“Dia memang menyarankan tempat sih...” Erica menjawab dengan nada pelan.

“Kalau begitu, tunggu apa lagi!!! Ayo segera ke sana!!!” Eddie, sabar dong.

“Masalahnya...” Erica masih menjawab dengan suara pelan.

“...Erica, jangan-jangan dia menyarankan tempat ‘itu’?” Fuzz menyelip pembicaraan. Tempat ‘itu’?

“.......................” Erica terdiam.

“AAAAARRRRRRGGGGGGHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!! Masa di situ?!?!?!?!”. Fuzz kalap.

Emang di mana sih?” tanyaku.

Dd...di...err...sekolah tua ddiii....di distrik utara...se...ses...sekolahnya ttt...terkenal ber...rr...berhantu, bahkan sssi...ssiang...” Erica berkata dengan suara gemetar. Dia takut hantu ya? Bisa jadi bahan pemerasan nih...

Mending daripada nggak ada kan?! Ayo semua, kita langsung ke distrik utara!!!” Eddie keluar bar secara terburu-buru sambil menyeret tangan Silvia.

Ah, tunggu---“ Silvia tidak sempat menyelesaikan kata-katanya.

 

Baiklah. Aku tidak peduli tempatnya di mana, favors is favors. Akan kubuat Silvia kembali ke perasaannya yang tulus.

 

Chapter 4, End.

 

 

Chapter 5

 

Chapter V:

Spirits

            Ciri orang penakut itu ada banyak. Ada yg takut cuma karena melihat kecoak, ada yg takut ngelihatin hantu, dan ada yg takut kepada seseorang nenek bernama Eerieca karena kemana-mana bawanya pisau mulu. Padahal sebagai seorang wanita yang sudah menginjak kepala dua, harusnya dia memikirkan kerja atau yang lain lah. Yang ini, malah mikirin cara ngebunuh yang paling kejam, sehingga film semacam SAW, atau game semacam Manhunt akan diturunkan ratingnya oleh ESRB (atau badan rating lainnya) dari ‘hanya untuk dewasa’ menjadi ‘semua umur’ atau ‘everyone 10+ ages and up’. Salah satu orang yang takut terhadap fenomena alam yang lebih hebat dari global warming yang dibahas Al Gore ini adalah Argento, yang menjadi pahlawan dalam epic cerita seorang dancer narsis ini.

            Tapi seperti sebuah lagu yang pernah dikumandangkan ketika Aceh kebanjiran, “Badai Pasti Berlalu”, badai yang dialami Argento telah berhenti. Sosok seorang terminatorwati bernama Erica, berubah 180 derajat ketika Argento and the gank (bukan gang motor!) memutuskan untuk menyelidiki sebuah sekolah berhantu di West Section dari Audition City, yang letaknya jauh di pelupuk mata jika dilihat di Hot Flames Bar (ya iyalah, lha wong ketutupan gedung lain, sedangkan barnya sendiri ada di South Section!).

“Err….be…be…bener nih kita mau nyelidikin tempat ini?” Erica berkata dengan termegap-megap.

“Kita nggak punya alternatif lain kan? Lagian susah di sini cari tempat yang bagus untuk berlatih…” kata Argento, yang kelihatannya agak malas. (Lha gimana nggak malas, ngejar Eddie berarti ngejar mobil F1!).

 

            Kalau diperhatiin, gedung sekolah itu memang serem, biarpun sekarang masih jam 5 sore. Yah, karena diabaikan selama beberapa tahun, gedung sekolah berbentuk kubus besar tersebut sudah mulai rapuh. Cat putih yang menyelimuti hampir setiap sudut gedung juga mulai terkelupas, dan beberapa pohon cemara disana tumbuh subur dan liar, sehingga beberapa pohon terlihat seperti hantu.*

 

Padahal, yang kudengar dari Fuzz, dulunya sekolah ini sangat terkenal karena fasilitas pembelajaran serba lengkap, murid cowo yang super ganteng, murid cewe yang aduhai wow-wow, sampai nilai ranking rata-rata sekolah yang selalu berada di peringkat atas dari semua sekolah! Sayang, karena suatu skandal, sekolah ini ditutup, dan dibiarkan begitu saja.

 

“Begitu ceritanya,” kata Fuzz setelah menjawab pertanyaanku tentang gedung macam apa ini.

 

“Err…mung-mung-mungkin kita sebaiknya nggak usah kesini deh, kan masih banyak tempat lain yang bisa----“

 

“Takut nek? Hehe---ups…” kata Fuzz. You fool!!!

 

Setelah candaan Fuzz yang menggetarkan jiwa tersebut dilontarkan, aku, Silvia, dan Eddie langsung berteriak:

 

“LARIIIIIIIIIII!!!!”

Dari kejauhan, Erica terlihat sedang membaca mantra. Selamat tinggal Fuzz, kamu memang sahabat yang baik…

 

OH ADMONISHING MELODY, ARISE IN THE NAME OF THE NECROMANCER! MYSTIC CAGE!!!!!!

 

“Guaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!”

 

            …dan kami memasuki gedung sekolah.

           

            Kami masih heran, bagaimana cara Fuzz bertahan dari Mystic Arts itu? Harusnya, dia sudah mati sekarang…tapi, kami tidak bias menegur apalagi berdebat dengan Erica, karena kepribadiannya sebagai sweet, feminine girl yang ditampilkan ketika kami akan memasuki gedung ini, balik lagi.

 

            “Err…aku takut nih…Ad---ad---ad---ada yang mau jalan dibelakangku? ‘Kan nanti kalau ada hantu, ada yang melindungi…”

            “Ya ampun, gimana sih! Jaman sekarang sih nggak mungkin ada hantu!” balas Silvia dengan sedikit tertawa.

            “Ya bener, aku aja nggak takut kok! Maka dari itu, Argento bisa jaga di belakang?” sahut Eddie dengan sangat nggelethek.

            “Eh? Iya deh…” aku langsung menyanggupi karena aku tidak mungkin bisa berdebat dengan mereka, apalagi sama Eddie atau Silvia…

 

            Setelah beberapa menit menyusuri lorong sekolah untuk mencari ruangan yang luas dan bagus, udara dingin menerpa bahu kami dari belakang.

 

            “Err…ka-ka—kalian nggak merasa ada yang aneh?” Erica bertanya dengan sangat ketakutan.

            “Iya nih…tiba-tiba aja dingin…” Silvia mengiyakan. Rupanya bukan cuma aku ya?

            “Mungkin ada jendela terbuka kali. Manusia kan kalau takut suka berhal---“

            “TAP---TAP---”

            “---usinasi…” sangkal Fuzz sesaat sebelum terdengar suara aneh tersebut.

           

            Serempak kami melihat ke belakang, dan…

            “AAAAAAAAGGGGGHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

            *Battle Music Starts*

            Tereretet—tereretet—

            Baby baby, Tereretet—tereretett—

            Baby baby baby baby baby yeaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!

            Tet! Terereret—tereeeerereret---

            Tereretet—tereretet—teeeeeeeeeetttttttt—

            Terererereretet—dum dum dum---

 

            I thought I told ya to sit down, and get down, I’m about to hit ground,

            When I’m in the box, my hits way outta this bounds

            Nobody’s stoppin’ me, you know it damn right.

            Most of y’all lovin’ me, doin’ it all night

 

            Keeping my friends close and my foes closer,

this could get messy but I never lick the nose up

            As I get older, see things slower,

            My enemies lookin’ up like kids, and I’m the grown up

 

            I’m the next masterpiece made         

            The new generations came up with the beast ACE

            But I’m the mister nice guy, see me I’m a wise guy

            Not a Mafioso but I hustle like Mike

 

            Lay low if you’re feelin’ me, I said take these beat freaks go crazy with me

            So put them up in this place with me, shake with the man

            L to the J’s now follow me, WOW!

            

                 *Ini musiknya kalau mau denger:

          

            Argento

            HP 163/163

            MP 45/45

            Weapon: Iron Pipe

 

            Eddie

            HP 215/215

            MP 30/30

            Weapon: Crowbar

 

            Fuzz

            HP 187/187

            MP 40/40

            Weapon: Studded Gloves         

 

            Erica

            HP 115/115

            MP 83/83

            Weapon: Anti-tank Rifle

 

            Enemy:

            ??????

            HP: ???

            MP: ???

            Weapon: ???

 

            Command:

            Attack – Attack with equipped weapon.

            Skills – Attack with equipped Persona’s skill.

            Persona – Switch Personas.

            Item – Use items in your inventory.

            Wait – Do nothing until your next turn.

            Escape – Flee the battle.

 

            Choose: Attack.

            Argento gets the first turn!

           

            “Adios, assholes!”

            Argento dealed 30 Strike Damage!

           

Enemy Defeated!

 

SHUFFLE TIME: 3 ORACLE!

            The coin card has give you good fortune!

            Obtained 526 DEN.

           

            Gained 4 EXP.

           

            “HUADUUUUUHHHHHHHHHH!!!!!!GW BUKAN SETAN TAHU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
           

            Argento and the gank: …Eh?

 

            Trivia:

            Untuk dark, Sora, dan Tatsuya-kun, ini nggak perlu gw jelasin. Untuk Tom, seperti itulah interface battle dari Persona 3. Tapi mainin yang The Journey dulu ya, ini referensi untuk Persona 3 FES: The Answer.
 

 

            Arnold…oh! Yang pernah ngebantuin sewaktu Battle Party beberapa hari kemarin ya?” It turns out, makhluk yang kami kira setan adalah Arnold (dengan Chang mengikuti di belakang), dua pemain figuran di Chapter 3 yang sengaja dimunculin si penulis yang ganteng, tebal muka, angin-anginan, suka guyonan, dan nggak tahu malu itu dengan alasan dia dipalak oleh yang bersangkutan (tapi 95% cerita tersebut adalah bohong besar yang melebihi tingkat kebohongan para menteri terpilih di berbagai daerah di Indonesia).

 

            “Iya nih…TAPI BISA NGGAK SIH LAIN KALI LIHAT-LIHAT KALAU---ah, gw haus nih…” bentak Arnold.

 

            “Minumnya ditunda nanti aja, mana ada sih vending machine di sekitar sini yang jual minuman?” Fuzz berusaha menyemangati Arnold.

 

            “Err…tapi…” Chang sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Sebelumnya, dia melihat ke sebuah ruangan di dekat kami dengan muka yang bener-bener lebih jelek dari Too Cool, seorang pelawak kelas 1 di Audition City. Kira-kira kenapa ya?

 

            “Itu…ada vending machine yang jual minuman…nyala lagi…” kata Ching yang menunjuk ke ruangan yang diliriknya tadi, yaitu ruangan di belakangku.

 

            “Hmm…memang tertulis kantin tapi…WTH?! WTF?!?!”

 

            …Di sebuah sudut ruangan itu ada vending machine…nyala, dan masih segar…

 

            “DEMIKONSERKANGENBANDDUETDENGANDREAMTHEATER!!! Apaan nih?!?!”…begitulah reaksiku dan yang lain (termasuk Eddie, yang paling normal).

 

            Kami melihat menu yang ada di situ:

            Cielo Mist: 70 DEN

            SoBay: 50 DEN

            Sprunk: 65 DEN

            Tabs the Soda Tea: 75 DEN

            Liquid Snake: 90 DEN

            Margin Mineral Water: 45 DEN

 

            Langsung aku mencoba memasukkan beberapa koin DEN (untungnya, aku dan Fuzz membawa dompet, jadi kami mentraktir semua orang) dan menekan tombol yang ada. Tidak disangka…benar-benar keluar.

 

*Trivia:

- Di vending machine tersebut, semua minumannya adalah referensi dari berbagai game/produk. Antara lain:

 

>>       Cielo Mist dan SoBay: Salah satu item dalam game Persona 3. Cielo Mist adalah referensi dari seorang karakter di seri mereka sebelumnya, Digital Devil Saga: Avatar Tuner bernama Cielo, sedangkan SoBay adalah plesetan dari E-Bay, sebuah situs belanja online.

 

>>       Sprunk: Minuman yang bisa ditemui di GTA: San Andreas dan GTA IV, dimana Sprunk adalah plesetan dari Sprite.

 

>>       Tabs the Soda Tea: Ini sih kayaknya nggak perlu gw jelasin, karena gw yakin pasti ada yg sering minum.

 

>>       Liquid Snake: Apalagi ini, untuk fans game Metal Gear Solid seperti gw, sepertinya nggak perlu dijelasin. Kan ada kata Liquid, ga apa-apa tho gw pake? :P

 

>>       Margin Mineral Water: Hilangkan kata “Mineral”, lalu tukarkan urutan kata yang tersisa. Untuk jelasnya, bisa tanya HGO-GreenCat-/Tommy.

 

            “WOI PENULIS!!! KOK SEMAKIN LAMA SEMAKIN KACAU NIH TULISAN LOE?!?!MANA LOGIKANYA COBA ADA MESIN PENJUAL MINUMAN DI SEKOLAH BERHANTU?!?!”

            “Gen, ini kan sejak awal emang di-set komedi. Lagipula, di clan gw, gw udah terlihat sebagai makhluk yang guyonannya garing. Tapi guyonan gw garing karena space buat chatting sewaktu gw main AyoDance kurang beratus-ratus karakter yang bisa diketik. Mumpung ada ruangan besar, makanya gw pakai. Paham?”

            “Hmm…paham sih…tapi tumben situ chattingnya panjang?”

            Kan udah gw bilang, di MS Word, ada lebih banyak tempat untuk guyonan gw biar lebih lucu.”

 

            “Jadi,*sruputt* kamu dimintai Nicholai dari NPC untuk mencari orang yang hilang?” tanyaku, sambil meminum sekaleng Liquid Snake yang aku beli dari vending machine. Sekarang, kami sendiri sedang beristirahat di lantai kantin tersebut, karena semua kursi yang ada sudah tua dan rapuh.

 

            “Iya. Masih ingat ketika *sruputt* Crazy Queen datang dan mengatakan bahwa hari itu ada sebuah grup yang menantangnya? Crazy *sruputt*Queen mengalahkan grup tersebut, sehingga seluruh DEN mereka *sruputt* diambil,” jelas Arnold.

 

            “Hoo…karena putus asa, lalu mereka *sruputt* jadi hilang akal dan pergi entah kemana?” pikir Fuzz, menanggapi perkataan Arnold, sambil meminum sekaleng Cielo Mist yang dibelinya.

 

            “Nicholai pikir begitu sih…karena Crazy Queen sendiri berpikir *sruputt* kalau sampai ada dancer yang hilang, kegiatan *sruputt* NPC akan diawasi polisi, dia menyuruh *sruputt*Nicholai dan beberapa anggota *sruputt* lain untuk mencari mereka sebelum*sruputt* ketahuan,” jawab Arnold sambil meminum 2 kaleng SoBay secara bergantian. Sepertinya dia haus sekali.

 

            “Saksi yang ada menyebutkan mereka terakhir kali terlihat memasuki gedung sekolah tua ini. Tapi dia sendiri tidak mencegah mereka, karena dia takut berurusan dengan mereka. Kyo, salah satu anggota NPC sudah membungkam saksinya sendiri sih, tapi…” lanjutnya. Sepertinya minumannya telah habis.

 

            “Kalian sendiri ke sini ada apa?” tanya Chang, yang dari tadi diam dan memandangi sekaleng Cielo Mist yang aku belikan.

 

            “Kami lagi mencari tempat latihan yang tenang, tersembunyi, dan luas untuk berlatih menjelang event Summer Of Love beberapa hari lagi. Besok sih rencananya kami akan mendaftarkan diri…makanya kami survey dulu tempat ini untuk mencari tempat yang masih bagus. Kita rencananya mau memakai kelas bekas yang ada. Mending daripada menyewa tempat latihan lain yang mahal,kan?” kataku.

 

            “Well, karena kita kebetulan ketemu, bagaimana kalau kita cari bersama-sama? Selagi kami mencari ruang yang bagus, kalian bisa mencari mereka yang hilang itu,” ajak Fuzz. Hmm…boleh juga idenya…

 

            “Mendingan sih daripada dipukul lagi oleh orang nggak dikenal…” kami mengartikan respons Arnold sebagai iya.

 

            “Hmm…kita sudah mengelilingi lantai 1 ini selama sekitar 25 menit, tapi kita tidak menemukan apa-apa…” keluhku, yang memang sudah capek.

 

            “Masih dua lantai lagi…dan ini sudah jam 7 malam…huaduhh, mulai ngantuk nih aku…” keluh Fuzz.

 

            “Bagaimana kalau kita berpencar menjelajah 2 lantai sisanya?” usul Arnold.

           

“Boleh juga…tapi siapa pergi sama siapa nih?” tanyaku.

 

            “Gini aja. Argento, Erica, Arnold dan aku pergi mencari di lantai 2. Eddie, Silvia, dan Chang cari lantai 3. Nanti kalau ketemu ruang yang bagus, atau ketemu orang yang mencurigakan, telpon yang lain. Semua bawa HP kan?” usul Fuzz. Seperti biasa, orang pintar…

 

            “Tentu saja,” kata semua orang sambil menunjukkan HP mereka masing-masing.

 

            “Kalau begitu kita mulai sekarang?” Tanya Fuzz.

 

            Setelah itu, mereka semua serempak mencari di lantai yang dituju.

 

 

Kami menjelajah lantai 2, dan kami sampai di sebuah kelas. Di papan-nya tertulis 2-D. Kelas 2-D. Aku akui, kelas ini cukup luas, tetapi tidak layak untuk digunakan untuk latihan kami. Langit-langit yang berlubang di atas kami, member kesan bahwa penyangga langit-langit diatas bisa roboh setiap saat.

 

            “Nggak kutemukan jejak yang mencurigakan tuh…” kata Arnold.

            “Dan ini jelas bukan tempat yang bagus untuk berlatih…” kataku sendiri.

            “Yah, kalau begitu, mari kita cari tempat lain. Setuju?

 

*KRING KRING*

Mogaman bakka shiterainaiyo iita kotowa iwanakucha~~~

Tiba-tiba ada sebuah lagu terdengar di telinga kami. Ternyata bunyi HP Fuzz.

 

            “Ups, teleponku bunyi nih, ah dari Eddie,” jawab Fuzz terhadap kami sambil menjawab teleponnya.

            “Hey, Fuzzy! Kesini nih, aku menemukan sesuatu yang aneh!” suara Eddie terdengar dari speaker handphone Fuzz.

            “Hm? Apa kamu menemukan orang yang dicari Arnold?”

            “Uhh, aku juga nggak tahu sih…ah bah-lah, aku malas menjelaskan. Kesini saja! Lantai 3, bagian timur, kelas 3-A!”

            “Allrighty, kami segera ke sana.”

            *TIT*

“Sepertinya tugas Arnold sudah selesai ya?” kataku.

            “Belum tentu. Siapa tahu sesuatu yang lain…piano berhantu mungkin? Hehe…” jawab Fuzz, setengah bercanda.

            “Err…kita pergi ke sana saja yuk…aku sudah takut nih di---“ kata-kata Erica terpotong sebelum selesai dikatakan.

 

            “GRRRRRRR”

            “LARIII!!!!!!!!!”

 

            Setelah lari dari suara aneh (yang sengaja dimunculkan si penulis biar kami punya alasan ke sini, soalnya dia kehilangan ide) tersebut, kami langsung mencari Eddie dan yang lainnya di lantai 3.  Jadi, kami bersama ke bagian timur, mencari kelas 3-A.

 

            “Kira-kira mereka menemukan apa ya?” tanyaku di tengah jalan.

            “Mungkin piano yang berbunyi sendiri? Itu sih umum,” kata Fuzz.

            “Ah, mungkin mereka menemukan meja yang bergerak sendiri?” pikir Arnold.

            “Sebaiknya kita cepat-cepat cek deh…aku sudah mulai takut…” sepertinya Erica mulai ketakutan…

 

            Setelah berjalan sebentar, kami menemukan kelas yang dimaksud. Kelas 3-A. Di sana, Eddie, Silvia, dan Chang sedang menunduk di bawah jendela yang bisa melihat kelas tersebut.

 

            “Hei, di sini!” bisik Eddie dengan pelan.

            “Apa sih? Apa yang kalian temukan?” tanyaku dengan penasaran.

            “Pelan-pelan…coba lihat itu…” tunjuk Eddie.

 

            Di sana kami menemukan pemandangan yang aneh. Di dalam kelas itu, kami melihat bahwa semua meja dan kursi dipinggirkan ke tepi kelas, sehingga membuat bagian tengah ruangan terbuka lebar. Kami juga menemukan 2 orang pemuda yang sedang melakukan Crazy Dance 4th Chance Style, salah satu gerakan paling sulit yang bisa dilakukan seorang dancer. Di sana, terdapat sebuah tape recorder tua yang terletak di sebuah meja di salah satu sudut ruangan, yang anehnya, masih berbunyi dan mengeluarkan lagu untuk mengiringi gerakan mereka. Yang aku ingat, lagu ini adalah lagu dari Dj Audition yang berjudul Will Be Good To You. But…tunggu dulu. Sepertinya mereka melakukan gerakan tersebut secara tidak sadar. Dan yang lain pun juga menyadari hal ini. Kira-kira kenapa ya?

 

            “Hei…bukankah mata kedua orang tersebut terlihat…kosong?” Tanya Chang, yang sepertinya paling cepat sadar.

            “Wait a minute, dua orang ini yang dicari Nicholai!” seru Arnold sambil mengeluarkan sebuah kertas bergambar sketsa kedua orang itu. Aku tidak perlu tanya, mungkin NPC yang men-suplainya.

            “Ah biarlah! Yang penting harus kita tolong mereka!” seru Eddie sambil mengeluarkan sebuah crowbar yang dari tadi dipenganginya sebagai senjata.

            “Eddie, kamu mau menolong mereka apa menghajar mereka?!” seru Silvia. Siapapun akan mengira Eddie akan menghajar mereka jika melihat dia mengeluarkan senjatanya seperti itu…

            “Hei…tape recorder itu agak aneh…tidak terkoneksi ke listrik, tapi ada plug-in-nya?” kata Chang sambil menunjuk ke tape recorder tersebut.

            “Kalau begitu, itu pasti sumbernya! HYAAAHHHH!!!” Eddie segera masuk ke ruang kelas dan mengangkat crowbar-nya tinggi-tinggi untuk menghancurkan tape recorder tersebut.

            “Eh?” aku melihat sesuatu yang aneh terjadi pada Eddie. Tiba-tiba senjatanya terlepas dan dia memulai gerakan dansa aliran 6.

            “Hei, hei, ada apa ini?!” Eddie berteriak.

            “ Sekarang aku yakin; tape recorder itu penyebabnya!” Fuzz berseru.

            “Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana hal iini bisa terjadi, tetapi kita harus menghancurkannya!” teriak Fuzz.

“Tapi bagaimana cara menghancurkannya? Dari sini kita tidak bisa melakukan apa-, apa…” kata Erica, yang memandangi tape recorder itu dari luar kelas.

            “Dia benar. Apalagi, jika kita bermaksud melemparkan sesuatu untuk merusakkannya, yang lain mungkin kena…” kata Silvia.

            “Kalau begitu, aku harus menghancurkannya sebelum aku kena pengaruhnya! HYAHHH!!!” Fuzz melaju untuk menghancurkan tape tersebut dengan tinjunya.

            “Lakukan dengan cepat, sebelum kau terpengaruh juga!” teriak Eddie, yang masih melakukan gerakan Aliran 6.

 

            Fuzz berlari dengan sangat cepat ke tape recorder tersebut. Tidak sampai 2 detik, dia sudah cukup dekat dari tape recorder itu. Tapi, dua orang yang menjadi korban sebelum Eddie tiba-tiba menghadap ke Fuzz tanpa kami sadari.

           

            “Fuzz, belakang!” aku berteriak mengingatkan Fuzz.

            “Eh…?” Fuzz menghadap belakang, dan…

 

            BUAGHH!! Dua orang yang dipengaruhi tape recorder itu tiba-tiba melakukan manuver tendangan terbang ke Fuzz. Tendangan itu mengenai tepat di depan wajah Fuzz yang menoleh ke belakang, dan darah segar mengucur dari kepala Fuzz.

 

            “Guahh….” setelah tendangan itu, Fuzz jatuh pingsan, dengan kepala bersimbah darah. Beberapa saat kemudian, dia melakukan gerakan Aliran 9 tanpa sadar. Kami tahu, dia sudah dalam kendali tape recorder tersebut.

 

            “FUZZ!!!” Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk dan menyiapkan senjataku untuk menghancurkan tape recorder tersebut.

 

            “Argento!! Itu bahaya!!” teriak Arnold. Tapi sudah terlambat untuk mundur.

 

            Tanpa basa-basi, aku langsung melaju ke tape recorder tersebut.

 

            “Grrrhhh…” Di tengah jalan, salah satu dari orang yang dicari Arnold mendekati aku, lalu menggunakan Windmill Headspin, gerakan andalanku dan menggunakannya seperti seni bela diri capoeira. Tendangannya mengenai perutku dengan telak.

 

            “Ugh…” …rasanya sakit sekali.

            “Argento, awas!!” Eddie tiba-tiba bergerak menghampiri aku, dan dalam pengaruh tape recorder tersebut, dia melakukan tendangan yang memingsankan Fuzz tadi. Aku hanya bisa meraung kesakitan.

 

            “Ugh….agh…” darah segar bersimbah dari kepalaku. Lebih banyak dari Fuzz, entah karena halangan fisikku atau apa.

            “Eddie, hentikan itu!!” Silvia berteriak dari luar.

            “Aku tidak bisa…tape itu mengendalikan aku! Benda macam apa ini?”

            “Ugh…” dalam pikiranku, sebelum pingsan, aku memikirkan taktik yang bisa aku lakukan. Aku berpikir, lalu sadar. Bila tape recorder ini bisa mengendalikan manusia, kenapa tidak sekalian mengendalikan kursi dan meja yang ada untuk menghajarku? Aku mengira, kursi ini hanya bisa mengendalikan benda hidup. Jadi dalam pertaruhan terakhir, aku melakukan cara terakhir yang bisa aku pikirkan. Tidak ada waktu lagi…aku merasa pikiranku mulai kosong, seperti akan dikendalikan.

 

            “HYAAAAHH!!” Dengan tenaga terakhir sebelum aku pingsan, aku melemparkan pipa besi-ku kuat-kuat sambil terjatuh. Untungnya, tidak ada siapa-siapa di jarak luncur. Tidak ada Fuzz, tidak ada Eddie, tidak ada siapa-siapa. Pipa itu meluncur tanpa hambatan ke tape recorder tua tersebut.

 

            PRAKKK! Tak kusangka, akan tepat. Entah karena pipa yang aku pungut itu memang keras atau apa, tape yang memang posisnya di meja itu tidak bagus terdorong jatuh dari meja dan hancur berkeping-keping di lantai.

 

            “Argento, kau berhasil!!”

            “Yeah buddy!”

           

            Aku mendengar suara Silvia dan Eddie sebelum kesadaranku hilang. Dan aku juga melihat Eddie terlepas dari pengaruh tape recorder tersebut, sementara Fuzz tergeletak pingsan di lantai. Suara yang lain juga bisa aku dengar, tapi aku tidak mengerti mereka bilang apa. Lama-lama, suara itu terdengar makin kecil…makin kecil…dan makin kecil…sampai aku tidak bisa mendengar dan melihat mereka.

 

            “Kau berhasil ya.”

            Suara itu membangunkan aku. Aku langsung berusaha untuk terbangun, tapi rasanya untuk berdiri saja sulit…

            Tempat apa ini? Aneh…di sekitarku aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku hanya bisa melihat dinding putih di sekitarku. Ketika aku sadari, aku berada di sebuah ruangan yang cukup luas. Anehnya, di ruangan itu tidak ada apa-apa kecuali sebuah sofa putih di depanku. Seorang pemuda berambut poni putih, berkemeja putih, dan bercelana hitam duduk di sana.

            “Hei, dimana…tempat ini?” tentu saja aku bertanya, dan siapapun akan bertanya bila tiba-tiba ada di ruangan aneh seperti ini.

            “Oh? Kamu tidak ingat tempat ini?” pemuda misterius itu memberikan jawaban yang aneh.

            “…Eh?”

            “Ya ampun. Kamu betul-betul tidak ingat. Ya sudahlah, akan kujelaskan tempat ini kepadamu,” tawar pemuda itu.

            “Ini adalah Chamber of Existence, sebuah kesadaran terdalam yang berada di bagian terdalam dari kesadaran dunia. Semakin merasa nyaman manusia di dunia ini, semakin luas ruangan ini, semakin banyak perabotan yang ada di sini, dan semakin banyak pula penjaga tempat ini. Oh, dan aku lupa menjelaskan. Aku adalah penjaga tempat ini. Dengan kata lain, aku melambangkan kepuasan manusia terhadap dunia ini. Keberadaanku yang hanya sendiri di sini, melambangkan bahwa jumlah manusia yang puas dalam hidupnya di dunia ini sangat sedikit.”

            “Tunggu dulu, maksudnya aku koma, begitu?”

            “Kamu bercanda. Kamu, koma di duniamu sendiri? Aku sendiri tidak tahu kenapa kau berada di sini. Tapi, ini justru bagus, karena kamu akhirnya telah menyadari keberadaan kami.”

            “Apa maksudmu?”

            “Time will tell, but time does not wait. Bangunlah. Temanmu mengkhawatirkanmu.”

 

            Ruangan itu tiba-tiba bersinar terang, dan sofa bersama pemuda itu ditelan cahaya.

 

            “--gentoooo~~~!”

            Sebuah suara samar-samar kudengar. Berikutnya aku mendengar suara-suara lain.

            “Heeei----“

            “—ngun!!”

            “-------dak apa-apa?”

            “Ugh…” aku mencoba untuk bangun. Rasanya susah, seperti yang kurasakan di ruangan putih aneh itu.

            “—gento! Sudah bangun ya?!” aku mendengar suara. Sepertinya suara Erica.

            “Hei, kamu benar-benar membikin kami semua khawatir, tahu! Oh, dan sori tadi aku menendang kepalamu,” kata Eddie sambil meminta maaf kepadaku.

            “Sudahlah, nggak apa-apa. Lagian, kamu dikendalikan, ya kan?” kataku.

            “Di mana ini?” tanyaku, yang baru sadar akan perasaan yang menginjak tanah dan bersandar di sebuah pagar.

            “Ini di pintu gerbang sekolah. Kamu pingsan dan kami bawa ke sini. Jangan kuatir, pengaruh tape recorder tersebut sudah hilang.” Kata Arnold.

            “Oh ya, bagaimana Fuzz dan orang yang dicari Arnold?”

            “Di sana tuh.” Silvia menunjuk ke samping kananku. Dekat dariku, aku melihat Fuzz dan 2 orang yang dicari tersebut tergeletak di tanah. Fuzz terlihat terluka parah.

            “Aku sudah memanggil ambulan. Seharusnya mereka akan datang ke sini sebentar lagi,” kata Arnold. Fiuhh, syukurlah.

            “Tapi sayang sekali ya, kita tidak bisa menemukan tempat yang bagus…” sesalku.

            “Apa maksudmu?” Silvia bertanya.

            “Eh…?”

            “Kami berencana memakai kelas kosong tempat kamu dan yang lain bertarung tadi untuk latihan. Dibanding ruangan lain, kelas itu dalam kondisi yang bagus. Aku akan membawa tape recorder portable dengan baterai untuk berlatih di sana, dan…” aku potong perkataan Silvia.”

            “No, not ANOTHER tape recorder!!!” kataku dengan penuh takut, masih trauma atas kejadian tadi.

           

Semua tertawa terbahak-bahak mendengar omonganku.

            Beberapa menit kemudian, aku mendengar sirene ambulans menuju kesini. Aku mengeluarkan handphone di sakuku dan melihat jam. Sudah jam 9 malam. Dengan diselimuti kegelapan malam, sebuah unit ambulan dan mobil pribadi Nicholai, salah satu anggota NPC mendatangi tenpat ini. Diselingi dengan perasaan puas serta terheran karena keberadaan ruangan aneh serba putih tadi, aku pergi dari sekolah itu sambil tertidur di kursi ambulans.

 

 

Those Silver Pages, Book 1

END

 

*End Section Trivia:

*Inilah format yang akan gw gunakan, setiap 5 chapter terbagi menjadi sebuah ‘book’. Chapter gaiden tidak termasuk.

*Gerakan menendang yang dilakukan Eddie dan 2 orang korban tadi…kalau gw nggak salah ingat, itu gerakan D8. Ada yang mau berbagi tombolnya?

*Maksud dari gerakan Aliran 6/Aliran 9 adalah gerakan LVL 6/9, just in case if it does not look obvious.

*Erica nggak menggunakan Anti-tank Rifle karena itu cuma candaan yang gw masukin. I mean, sampai kapanpun, Kepolisian tidak akan memperbolehkan senapan Anti-tank dibawa-bawa. Paling hebat juga cuma pistol M1191A1/Colt ’45 atau Shotgun untuk pertahanan took anti rampok.